Transformasi Indonesia 2050 (1) – Pendidikan Liberal Arts

Demi waktu,
Sungguh manusia dalam keadaan merugi,
Kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih, dan
Saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran
– Al Qur’an, Surat al ‘Asr

Ini adalah orasi yang disampaikan pada dies natalis ITS
1. Pendahuluan
2. Pendidikan Gagal Membangun Bangsa yang Berdisiplin
3. Pengertian dari Waktu dan Mengapa Ia Penting
4. Implikasi Merusak Ketidakpekaan Waktu
5. Pendidikan Liberal Arts: Membangun Kepekaan Waktu
6. Catatan Untuk ITS
7. Penutup

Dalam empat bulan terakhir ini, Presiden SBY dalam dua kesempatan berbicara di Universitas Airlangga dan Universitas Padjajaran mewacanakan tentang Transformasi Indonesia 2030. Dalam dua kesempatan tersebut, Presiden menyitir sebuah laporan menarik yang dipublikasikan oleh Goldman Sachs, sebuah perusahaan konsultan global, yang meramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara yang penting dalam 20-40 tahun ke depan. Menurut ramalan Goldman Sachs tersebut Indonesia pada tahun 2050 bakal menjadi salah satu negara the Big-7, yaitu Brazil, Rusia, India, China, Amerika Serikat, Turki, dan Indonesia. Yang paling menonjol dalam thesis Jim O’Neil (senior economist pada Goldman Sachs Investment Bank) ini adalah transformasi di China dan India, sehingga keduanya disebut Chindia. Kebesaran Negara-negara ini dilihat dari pendapatan perkapita penduduk tujuh tertinggi di dunia meninggalkan tidak saja Taiwan, dan Korea Selatan, namun juga Jepang, Jerman, Perancis, dan Inggris. Ramalan-ramalan ini dipijakkan pada kecenderungan-kecenderungan ekonomi, politik, dan demografi pada ke-tujuh negara tersebut.

Kemungkinan besar berdasarkan proyeksi-proyeksi ini, pada pertengahan 2007 ini PM Abe (saat itu) dari Jepang , dan PM Putin dari Rusia segera mengunjungi Indonesia untuk membangun sebuah kemitraan bilateral strategis. Kedua negara raksasa ini menyadari betapa pentingnya Indonesia dalam percaturan internasional di masa depan, serta sebagai pasar bagi produk-produk mereka. Jepang yang telah lama ”meninggalkan kartu Asia” dengan menjadi sekutu dekat AS –untuk tidak menyebut boneka AS- segera tergopoh-gopoh melihat pengaruh Cina yang semakin meningkat di kawasan ini. Rusia segera menggunakan sentiman historisnya untuk mendekati Indonesia sebagai ”teman lama”, termasuk menawarkan teknologi pertahanan, sejak teknologi pesawat terbang, hingga roket. Bahkan direncanakan akan dibangun fasilitas peluncuran roket di Papua oleh Rusia.

Pertanyaannya adalah : apakah Indonesia benar-benar pada sekitar tahun 2050 akan berhasil mentransformasikan diri menjadi anggota the Big-7 ini dengan pengaruh ekonomi, budaya, dan politik yang tidak bisa lagi diremehkan ? Apa yang harus dilakukan oleh Indonesia untuk itu ? Orasi ini berpandangan bahwa prestasi Indonesia di tahun 2050 ini bukan merupakan sesuatu yang boleh taken for granted. Orasi ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Segera harus dicatat, bahwa sejarah peradaban manusia telah dengan jelas menunjukkan kepada kita, bahwa kekayaan sumberdaya alam (modal alam), warna kulit, dan kecerdasan intelektual sumberdaya manusia semata tidak menentukan keberhasilan sebuah bangsa menjadi bangsa yang maju, makmur, dan berpengaruh. Angka kemiskinan Indonesia masih amat tinggi (20-30%, mencapai sekitar 37 juta penduduk per Juli 2007) diikuti dengan kekurangan gizi dan keterbelakangan kecerdasan (lihat Gambar 1). Sebuah bangsa lebih membutuhkan modal buatan yang disusun dari sikap, disiplin, integritas, kemauan bekerja keras, kepatuhan pada hukum dan peraturan, penghargaan kepada hak-hak orang lain, dan kegairahan untuk melakukan perbaikan terus menerus agar menjadi bangsa yang maju dan makmur.

Gambar 1 . Kemiskinan dan Keterbelakangan di Ponorogo

(sumber : Kompas, Rabu 3 Oktober 2007)

Memperkuat modal buatan tidak saja kunci bagi Singapura dan Jepang, serta bangsa-bangsa lain yang miskin sumberdaya alam, tapi juga kunci bagi Indonesia yang diberkati dengan sumberdaya alam melimpah tapi terbatas. Penguatan modal buatan ini merupakan strategi pembangunan Indonesia untuk tumbuh berkelanjutan sambil mengurangi tingkat eksploitasi alam yang kini sudah tampak berlebihan sehingga mulai mengancam ekosistem kita.

Kunci penguatan modal buatan ini adalah pendidikan, dan untuk abad informasi ini, sebagaimana dikemukakan oleh Sir Ken Robinson, adalah pendidikan yang menumbuhkembangkan kreatifitas. Hanya manusia kreatif yang mampu bertahan dalam perubahan cepat multi-dimensional yang dibawa oleh kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi..

Namun demikian segera harus dicatat, bahwa pembangunan pendidikan Indonesia saat ini telah gagal menghasilkan modal buatan (manusia kreatif) yang dibutuhkan untuk menjadi bangsa yang maju. Alih-alih pendidikan menghasilkan modal buatan, pendidikan yang tidak berorientasi mutu, miskin ranah, miskin kecerdasan, justru telah menghancurkan modal alami kita sendiri, dan menjadi liability karena melahirkan warga yang tidak memiliki kapasitas kreatif yang dibutuhkan. Oleh karena itu pendidikan sebagai a cradle of civilization yang akan menjadi kunci penentu keberhasilan transformasi Indonesia 2050 perlu direorientasikan untuk berperspektif mutu, menjangkau pengembangan kompetensi manusia dengan spektrum yang lebih luas yang dipijakkan pada seluruh kecerdasannya yang majemuk. Pendidikan yang miskin ranah, serta mengerdilkan kreatifitas tidak saja sebuah pemborosan, bahkan akan menghasilkan manusia yang gagal.

Comments

  1. ewepe

    Semoga Ramadhan 1428 H berhasil menjadikan kita kembali pada fitrah, dan menjadikan materi kepedulian sosal selama Ramahan tidak hanya menjadi wacana semata.

    Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum,

    kulu ‘aamin wa antum bi khoirin, minal ‘aidin wal faidzin

  2. Januar Saleh Kaimuddin

    Ass. Salam Pak. Orasi ilmiah yang cukup membuka wawasan kita semua. Sy mau berkomentar sedikit pak. Banyak hal yg menyebbkn begitu bnyknya ketrblakngn msyrkat kita. Ssngghnya mmg msh ngambang siapa dan apa yg salah pada msyarakat kita atau kita sendiri. Nmun bukn hal yg dewasa jk kt mncari kslahan tnpa mencari solusi.

    Saya ingin berkomentar tentang dunia mahasiswa. Dimata msyarakat khususnya mahasiswa, umumnya mnyalahkan pemerintah shgg pemernth mnjadi objek yg bertanggung jawab atas smua permasalahan msyarakt kita. Secara pribadi saya melihat salah satu faktornya adalah kultur masyarakat kita yang cenderung merasa nyaman dengan keadaan yang ada. Hasil survey konsultan ternama, Tony Sardjono, menilai bahwa kcnderungan msyarakt kita yang salah mengartikan kata pasrah sebagai hal yang diterima begitu saja. Hal ini dinilainya melalui dunia kerja, bahwa kcenderungan mahasiswa Indonesia khususnya lebih merasa nyaman dengan posisi yang ada sehingga malas untuk berusaha mengubah keadaannya(posisi) lebih baik.

    Kemudian budaya yang kurang percaya diri dari masyarakat kita (mahasiswa). Sehingga kurang berkompeten dengan msyarakt luar negeri. Di samping itu kurangnya motivasi untuk berinovasi menyebabkan matinya kreativitas pelajar ditambah kurang mendukungnya proses belajar mengajar yang diterapkan di dunia kampus.
    Dari sini pula, kecenderungan untuk cepat selesai tanpa memikirkan fungsi proses dan lebih berorientasi pada fungsi hasil menyebabkan matinya kreativitas tersebut.

    Alhasil lulusan (sarjana) Indonesia lebih dikatakan lulusan yang Siap Latih bukan Siap Kerja.

    Hal-hal ini menjadi sangat urgen dan tambah rumit karena terlalu bertumpuknya masalah yang ada ditambah solusi yang tidak memihak kepada kepentingan umum (PT menjadi BHP).

    Masalah2 ini merujuk pada tingkat intelektualitas masyarakat kita yang menurun. Kultur dan lingkungan yang kurang mendukung, pemerintah yang bersifat acuh, pendidikan yang mahal menjadikan masalah kita begitu komplit.

    Alhasil masyarakat terserang virus personal down yang berinfeksi pada ketidak percayaan diri. Kemudian merujuk pada tingkat keputusasaan yang tinggi dan menurunnya keyakinan usaha akan sampai.

    Agak sulit memang menemukan solusi jika masalah ini tidak dirembukkan bersama-sama. Tidak adanya keterbukaan pihak yang berwenang menambah tidak adanya benang merah yang dapat ditarik.

    Solusi yang dapat saya rekomendasikan adalah kita menelaah kembali perintah Al-Qur’an pada ayat yang pertama turun. Bacalah!!! Membaca dengan arti yang luas. Melihat, namun melihat belum tentu bergerak, dan bergerak belum tentu menyelesaikan. Namun yang harus ditanamkan pada manajemen personal kita adalah melihat, bergerak dan akhrinya menyelesaikan.
    Wassalam…

    Tak ada yang lebih baik jika kita merujuk pada tujuan akhir, Yakin Usaha Sampai…

  3. ali masduqi

    Assalamu alaikum
    Bapak DM Rosyid yth.
    Saya sering mengikuti pemikiran Bapak tentang pendidikan. Saya banyak setuju dengan pemikiran tersebut. Sebagai Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, rasanya kok suara Bapak tentang pendidikan di Jawa Timur kurang begitu didengar. Lalu apa fungsi Dewan tersebut?

    Tentang orasi Dies Natalis ITS 47, saya sempat mendengarkan di acara Rapat Terbuka Senat ITS 10 Nov. 2007. Menarik sekali, apalagi diselingi acara penampilan musik dan olah raga di tengah orasi. Suatu hal yang di luar kebiasaan. Saya suka pada hal-hal yang tidak biasa. Luar biasa.
    Maaf, terima kasih.
    Wasalam

  4. Dede Farhan Aulawi

    Ramalan adalah sebuah harapan untuk membangun semangat psikologis. Ketika spirit ini tertanam dalam hati, lalu terjadi anchoring di alam bawah sadar, maka potensi untuk mewujudkannya lebih mudah.

    Indonesia sangat memungkinkan untuk itu, jika di drive oleh seorang pimpinan yang mampu meng-kolektif-kan segenap kemampuan dan potensi bangsa secara optimal, jujur, transapan dan dapat dipercaya.

  5. bahtiarhs

    Saya sangat tertarik dengan pernyataan Pak Daniel tentang lebih pentingnya “modal buatan” seperti integritas, disiplin, militansi, dsb ketimbang modal alam dan potensi2 bangsa lainnya. Singapura dan Jepang adalah sedikit contoh bangsa yang “makmur” dengan modal alam yang terbatas.

    Terima kasih pak. Sudut pandang yang bagus. Mohon ijin saya kutip komentar pada blog saya.

    Bahtiar

  6. Binti masruroh

    Dear pak Daniel

    Ponorogo, tumpsh darah ku, ternyata ada sodara dekat ku yang mengalami kemiskinan yang demikian parah, dan saya sama sekali tidak tahu, astagfirulloh… semoga pimpinan indonesia segera dapat mewujudkan cita cita luhur bangsa. amieeen
    pak Daniel terimakasih atas info penting ini.

Leave a Reply to Dede Farhan Aulawi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *