<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>danielrosyid.com &#187; Featured Articles</title>
	<atom:link href="http://danielrosyid.com/category/featured-articles/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://danielrosyid.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 12 Feb 2012 12:09:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>ITS Rectorship Platform</title>
		<link>http://danielrosyid.com/its-rectorship-platform.html</link>
		<comments>http://danielrosyid.com/its-rectorship-platform.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 13:56:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Rosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[rectorship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielrosyid.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Ada empat alasan pokok mengapa saya mencalonkan diri menjadi Carek ITS periode 2011-2015. Silahkan unduh file berikut untuk mendapatkan penjelasan terkait keempat komponen rectorship platform yang saya yakini akan menjadikan ITS sebagai model PTN Abad 21 yang meneladankan integritas, teknoprenersip, dan solusi bagi Indonesia. Tautan Download: Rectorship Platform (1,38 Mb via mediafire) atau silahkan baca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://danielrosyid.com/wp-content/uploads/2010/08/rectorship-platform-big.jpg"><img src="http://danielrosyid.com/wp-content/uploads/2010/08/rectorship-platform-big.jpg" alt="rectorship-platform-big" title="rectorship-platform-big" width="570" height="180" class="aligncenter size-full wp-image-127" /></a></p>
<p>Ada empat alasan pokok mengapa saya mencalonkan diri menjadi Carek ITS periode 2011-2015. Silahkan unduh file berikut untuk mendapatkan penjelasan terkait keempat komponen rectorship platform yang saya yakini akan menjadikan ITS sebagai model PTN Abad 21 yang meneladankan integritas, teknoprenersip, dan solusi bagi Indonesia.</p>
<p><a href="http://www.mediafire.com/?2m2vf11862p5w45">Tautan Download: Rectorship Platform</a><br />
(1,38 Mb via mediafire)</p>
<p>atau silahkan baca dalam full screen (dari opsi menu sebelah kiri bawah) melalui yang berikut ini:</p>
<div style="width:570px" id="__ss_4990698"><strong style="display:block;margin:12px 0 4px"><a href="http://www.slideshare.net/akhmadguntar/daniel-rosyid-on-rectorship-platform" title="Daniel rosyid  on rectorship platform">Daniel rosyid  on rectorship platform</a></strong><object id="__sse4990698" width="570" height="476"><param name="movie" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=danielrosyid-rectorshipplatform-100817085329-phpapp01&#038;stripped_title=daniel-rosyid-on-rectorship-platform" /><param name="allowFullScreen" value="true"/><param name="allowScriptAccess" value="always"/><embed name="__sse4990698" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=danielrosyid-rectorshipplatform-100817085329-phpapp01&#038;stripped_title=daniel-rosyid-on-rectorship-platform" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="570" height="476"></embed></object></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://danielrosyid.com/menulis-atau-mati-saja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Menulis atau Mati Saja</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/pendidikan-budi-pekerti.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pendidikan Budi Pekerti</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/kepemimpinan-kreatif-sektor-bisnis-dan-publik.html" rel="bookmark" class="crp_title">Membangun Kepemimpinan Kreatif Sektor Bisnis dan Publik</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/nurturing-creativity-in-21-c-universities.html" rel="bookmark" class="crp_title">Nurturing Creativity in 21-C Universities</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/saya-akan-bayar-hutang-ui-pada-indonesia.html" rel="bookmark" class="crp_title">Saya Akan Bayar Hutang UI Pada Indonesia</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://danielrosyid.com/its-rectorship-platform.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jembatan Selat Sunda : Blunder Konsep dan Teknomik</title>
		<link>http://danielrosyid.com/jembatan-selat-sunda-blunder-konsep-dan-teknomik.html</link>
		<comments>http://danielrosyid.com/jembatan-selat-sunda-blunder-konsep-dan-teknomik.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 07:30:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Rosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[blunder]]></category>
		<category><![CDATA[jembatan]]></category>
		<category><![CDATA[konsep]]></category>
		<category><![CDATA[selat sunda]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[teknomik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielrosyid.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Ada tiga alasan mendasar mengapa JSS adalah sebuah mega-mubazir, blunder teknologi, dan ekonomi regional untuk “menghubungkan” Jawa-Sumatra. Alasan pertama, secara paradigmatik, JSS adalah turunan paradigma pulau besar yang memandang laut dan selat sebagai pemisah, atau paling tidak semacam sungai besar.  Manusia pulau besar cenderung memaksakan kudanya (untuk zaman sekarang adalah mobilnya) untuk menyeberang. Paradigma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-108" title="header-jembatan-selat-sunda" src="http://danielrosyid.com/wp-content/uploads/2009/09/header-jembatan-selat-sunda.jpg" alt="header-jembatan-selat-sunda" width="570" height="180" /></p>
<h3><strong>PENDAHULUAN </strong></h3>
<p>Ada tiga alasan mendasar mengapa JSS adalah sebuah mega-mubazir, blunder teknologi, dan ekonomi regional untuk “menghubungkan” Jawa-Sumatra. Alasan pertama, secara paradigmatik, JSS adalah turunan paradigma pulau besar yang memandang laut dan selat sebagai pemisah, atau paling tidak semacam sungai besar.  Manusia pulau besar cenderung memaksakan kudanya (untuk zaman sekarang adalah mobilnya) untuk menyeberang. Paradigma kepulauan memandang laut dan selat justru sebagai penghubung (jembatan) alamiah, sedangkan kapal adalah alat angkut yang cocok untuk memanfaatkan daya dukung air laut tersebut bagi muatan yang diangkut kapal-kapal tersebut..</p>
<p>Alasan kedua, secara topologi, jembatan hanya solusi jarak terpendek bagi <em>concave landmass domain</em> yang lahir dari cara berpikir pulau besar. Untuk negara kepulauan, dengan ruang topologi yang jauh berbeda, satu jembatan  justru membentuk <em>artificial concave landmass domain </em>yang problematik karena justru menurunkan<em> connectedness-</em>nya.  Artinya, kehadiran jembatan justru menuntut adanya jembatan tambahan agar<em> connectedness </em>kedua pulau<em> </em>dapat dipertahankan.</p>
<p>Solusinya adalah paradigma kepulauan yang membuka <em>relaxed design domain</em> tanpa mengubah ruang topologi <em>landmass</em> yang sudah ada. Solusi untuk <em>relaxed design domain</em> itu adalah kapal (penyeberangan/ferry), yang teknologi generasi terkininya sudah tersedia dan <em>well-proven.</em> Air laut bersama sistem ferry canggih ini membentuk jembatan alamiah dalam jumlah tak-terbatas sehingga mempertahankan <em>connectedness</em> kedua pulau.</p>
<h3><strong>ANALISIS TEKNOMIK</strong></h3>
<p>Alasan ketiga adalah alasan-alasan teknomik berikut. Satu Jembatan yang menghubungkan dua pulau, karena <em>concavity</em> permanen yang terbentuk oleh jembatan ini, hanya akan menguntungkan kawasan kaki-kaki jembatan saja. Para spekulan tanah dan tuan tanah yang menguasai kawasan kaki jembatan akan paling diuntungkan.  Solusi ferry  (maju) boleh dikatakan membentuk <em>concavity</em> yang lentur dan dinamik. Artinya, sistem layanan penyeberangan (ferry ro-ro dan demaga) dan pelayaran yang canggih dapat menghubungkan Jawa dan Sumatra di banyak lintasan sehingga Sumatra secara menyeluruh akan memperoleh manfaat yang jauh lebih besar daripada JSS yang akan menguntungkan Lampung dan Banten saja. Kondisi jaringan Trans Sumatra saat ini yang buruk juga akan mengurangi manfaat JSS bagi integrasi pasar di Pulau Sumatra.</p>
<p>Memaksakan truck, atau mobil untuk melintasi Selat Sunda dapat tetap dilakukan dengan jauh lebih efisien dengan kapal ferry yang lebih baik dari layanan ferry yang ada saat ini. Air laut Selat Sunda telah membuat kontur <em>sea-bed</em> Selat Sunda yang kompleks penuh patahan dan palung menjadi tidak relevan, bukan bagi truck atau mobil, tapi bagi kapal ferry. Bagi penumpang, kapal ferry ini adalah jembatan sekaligus mobil/trucknya. Air laut yang tersedia tanpa dibeli, karena sunnatullah mampu mendukung beban muatan yang diangkut truck/mobil, dsb  berapapun banyaknya dengan menggunakan kapal-kapal dengan desain dan besar armada yang tepat. Air laut bersama sistem ferry maju yang tepat akan menjadi jembatan penghubung yang <em>very-cost effective . </em>dengan investasi  10% JSS  saja dan dapat disediakan dalam waktu 3-4 tahun saja,</p>
<p>JSS adalah <em>highly constrained solution</em> karena JSS merupakan kelanjutan kebijakan transportasi yang keliru saat ini yang berat moda-jalan (mobil, sepeda motor, truck, dan bis) individual/privat  yang tidak efisien, polutif, dan meningkatkan ketergantungan pada BBM. Situasi <em>uni-modality</em> saat ini sudah sangat kritis. Indonesia akan semakin terjebak dalam <em>single-mode trap</em> berkepanjangan yang hanya menguntungkan industri mobil (yang masih diimpor). JSS justru akan memberi insentif bagi ketergantungan Indonesia pada moda transport yang buruk ini. Lebih berbahaya lagi adalah bahwa JSS merupakan <em>highly constrained solution</em> dan pengalih perhatian publik oleh Pemerintah yang telah gagal membangun pemerintahan yang efektif di laut –sebagaimana amanat konstitusi yang sudah diamandemen- yang justru merupakan kunci penyelesaian banyak masalah di Indonesia saat ini sebagai negara kepulauan yang berciri Nusantara.</p>
<h3><strong>PERBANDINGAN EMPIRIK  BEBERAPA MEGA-PROYEK</strong></h3>
<p>JSS sebagai teknologi yang melawan kondisi alamiah Selat Sunda akan harus dibayar dengan mahal sekali yang kemungkinan besar tidak akan pernah terpikul oleh kapasitas fiskal nasional kita dalam waktu 10 tahun lebih ke depan. Perkiraan biaya pembangunan JSS yang diumumkan saat ini adalah Rp. 120T. Berdasarkan pengalaman Jembatan Suramadu dengan panjang 5km saja dan bentang terpanjang hanya sekitar  500m, biayanya membengkak menjadi Rp. 5T dan waktu pembangunannya molor 1 tahun lebih dengan <em>soft loan</em> dari Cina untuk bentang tengahnya. Dari pengalaman Jembatan Suramadu ini, biaya JSS yang 30km dapat mencapai Rp. 180T atau lebih karena harus lebih lebar (6 lajur ), lebih tebal (untuk mengakomodasi track kereta api dan bentang yang jauh lebih panjang), dan <em>pylon</em> (menara) penyangganya lebih tinggi, dan lebih dalam di lingkungan yang secara tektonik dan vulkanik amat aktif. Hubungan antara panjang (bentang) jembatan dan harga pembangunanya jelas bukan linier sederhana, namun paling tidak kuadratik, atau bahkan kubik.</p>
<p>Segmen JSS yang terpanjang akan menuntut bentang <em>suspension bridge</em> yang terlalu panjang (sekitar 3500m) bagi teknologi jembatan yang kita kenal secara global saat ini. Jembatan terpanjang saat ini adalah Jembatan Akashi-Kaikyo di Jepang yang menghubungkan Kobe di Pulau Honshu dan pulau Awaji. Panjang bentangnya 1991m, dan panjang total “hanya” 3911m, <em>clearance</em> 66m, dibangun selama 12 tahun (1986-1998). Sekarang jembatan ini menampung <em>traffic</em> 23000 mobil/hari, dengan tariff toll mencapai Y 2300 (sekitar Rp. 250.000). Jembatan ini tidak mengakomodasi kereta api.</p>
<p>Sementara itu, desain JSS harus mengakomodasi syarat-syarat Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI 1) sebagai sebuah kesepakatan internasional (United Nation Convention on the Law of the Sea -UNCLOS) yang telah kita ratifikasi. Karena kontur <em>sea-bed</em> yang rumit dengan kedalaman yang bervariasi dari -40m hingga -80m lebih, peluang terjadinya <em>ground acceleration</em> hingga 0,3g akibat gempa tektonik, serta ancaman erupsi vulkanik Krakatau, maka rancangbangun dan pembangunan JSS akan amat mahal bagi kemampuan  fiskal nasional RI hingga 10-20 tahun ke depan. Sistem keuangan global yang belum stabil, serta harga baja dan beton yang dapat dipastikan akan terus naik, akan meningkatkan kerentanan pembiayaan JSS dari ancaman <em>financial shocks</em> selama masa konstruksinya yang diperkirakan selama 10 tahun. Kita boleh berharap, masa konstruksi JSS akan molor lebih lama dari yang direncanakan.</p>
<p>Sementara itu, Jembatan Messina yang menghubungkan <em>mainland</em> Italia (Calabria) dengan Messina di pulau Sicilia dibatalkan pembangunannya pada tahun 2006  setelah terjadi debat dan kontroversi bertahun-tahun antara Pemerintah, parlemen, dan masyarakat <em>mainland</em> Italia maupun kelompok-kelompok nasionalis Sicilia.  Bentang tengah jembatan ini akan menjadi yang terpanjang nomor dua di dunia (setelah JSS), yaitu sepanjang 3300m, <em>clearance</em> 65m, dan tinggi <em>pylon</em> mencapai 383m ! Biaya yang direncanakan adalah sebesar Euro 6,1M, atau sekitar Rp. 70T.  Pemerintah Italia (sebelum PM Berlusconni) membatalkan rencana ini karena memandang perbaikan prasarana jalan di P. Sisilia sendiri jauh lebih bermanfaat bagi ekonomi regional Italia sementara ada kekhawatiran yang luas bahwa dana Triliunan Lira akan jatuh ke tangan organisasi kriminal Cosa Nostra dan Ndranghetta.</p>
<p>Banyak proyek-proyek besar di negara-negara maju dan kaya (dengan disiplin waktu dan kapasitas fiskal yang jauh lebih baik dari Indonesia) selalu berakhir dengan <em>cost-over run</em> dan keterlambatan. 2 contoh proyek mercun suar ini adalah the Sydney Opera House dan the Millenium Dome di London.  Sementara itu, terowongan Eropa (Eurotunnel) yang menghubungkan Dover-Calais di bawah <em>English Channel</em> berpanjang 50 km diselesaikan dalam waktu 8 tahun (1986-1994), membengkak biayanya hampir 2 kali lipat (dari perkiraan awal GBP 2600M menjadi GBP 4650M, senilai Rp. 500T!), dan manfaat ekonomi regionalnya amat terbatas, terutama bagi Inggris. Bahkan dilaporkan kondisi Inggris akan jauh lebih baik saat ini jika terowongan ini tidak pernah dibangun sama sekali. Investor-Operator terowongan yang bekerja dengan pola BOOT (<em>Build-Own-Operate-Transfer</em>) mengalami kerugian dan hampir bangkrut karena proyeksi traffic tidak seperti yang diramalkan, dan beberapa kali penutupan terowongan akibat kebakaran di dalam terowongan. Dampak lingkungan terowongan ini juga terbukti negatif.</p>
<h3><strong>PERBANDINGAN SOLUSI (Benefit/Cost)</strong></h3>
<p>Di tingkat teknomik, JSS jelas-jelas inferiror dibanding sistem ferry maju. Dari perbandingan di atas terlihat bahwa solusi Ferry maju memberikan Benefit/cost ratio yang paling baik, terutama menghindarkan Indonesia dari jebakan <em>uni-modaliity </em>yang tidak efisien dan polutif, serta privat sehingga secara umum tidak <em>sustainable.</em> Dapat dilihat bahwa paradigma kepulauan membuka sebuah <em>relaxed design solution</em> yang lebih <em>cost-effective</em> berupa armada dan dermaga  ferry maju dengan beban pembiayaan yang lebih ringan dan adil bagi mayoritas daerah/kawasan di Indonesia. Secara topologi, solusi sistem ferry membentuk ruang Jawa-Sumatra yang  lebih <em>compact</em> dan <em>well-connected</em>.  Sebagai perbandingan adalah sistem ferry Yunani untuk kawasan Agean Sea yang sangat luar biasa untuk ekonomi dan pariwisata Yunani. Pariwisata Selat Sunda jelas akan terbangun baik justru dengan sistem ferry maju, bukan dengan JSS.</p>
<p>Tahapan pemilihan konsep merupakan tahapan amat penting dan berdampak jangka panjang, namun dengan informasi yang bersifat kualitatif dan terbatas. Dari analisis kualitatif,dan  konseptual di atas, dapat disajikan sebuah tabel perbandingan atas berbagai solusi untuk menghubungkan Jawa-Sumatra sebagai berikut :</p>
<p><strong>Tabel 1. Perbandingan 3 Opsi Solusi Untuk Selat Sunda</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="170" valign="top"><strong>KRITERIA</strong></td>
<td width="161" valign="top"><strong>JEMBATAN</strong></td>
<td width="170" valign="top"><strong>TEROWONGAN</strong></td>
<td width="130" valign="top"><strong>FERRY MAJU</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">
<p align="left">Paradigma</p>
</td>
<td width="161" valign="top">Pulau Besar</td>
<td width="170" valign="top">Pulau Besar</td>
<td width="130" valign="top">Kepulauan</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">
<p align="left">Topologi, <em>connectedness</em></p>
</td>
<td width="161" valign="top"><em>Less connected</em></td>
<td width="170" valign="top"><em>Less connected</em></td>
<td width="130" valign="top"><em>Well- connected</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">Biaya Pembangunan</td>
<td width="161" valign="top">Rp. 180 T</td>
<td width="170" valign="top">Rp. 360T</td>
<td width="130" valign="top">Rp. 20 T</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">Biaya M/O</td>
<td width="161" valign="top">Amat besar</td>
<td width="170" valign="top">besar</td>
<td width="130" valign="top">Kecil</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">Lama Pembangunan</td>
<td width="161" valign="top">10 tahun</td>
<td width="170" valign="top">15 tahun</td>
<td width="130" valign="top">3 tahun</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">
<p align="left">Potensi <em>cost over-run, </em>rugi  dan   molor</p>
</td>
<td width="161" valign="top">Besar</td>
<td width="170" valign="top">besar</td>
<td width="130" valign="top">Kecil</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">Dampak Spasial, Geo-ekonomi-politik</td>
<td width="161" valign="top">Serius, mengganggu ALKI 1</td>
<td width="170" valign="top">Cukup serius</td>
<td width="130" valign="top">Tidak ada</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">Ketidakpastian beban perancangan</td>
<td width="161" valign="top">Tinggi, gempa 0,3g,  dan erupsi   vulkanik</td>
<td width="170" valign="top">Cukup tinggi,  gerakan lempeng   tektonik SS</td>
<td width="130" valign="top">Rendah</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">Teknologi</td>
<td width="161" valign="top"><em>Not-well proven</em></td>
<td width="170" valign="top"><em>Well-proven</em></td>
<td width="130" valign="top"><em>Very-well proven</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">Dampak Lingkungan</td>
<td width="161" valign="top">Besar, <em>against nature</em></td>
<td width="170" valign="top">Menengah</td>
<td width="130" valign="top">Rendah, <em>friendly</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">Resiko <em>financial   shocks</em></td>
<td width="161" valign="top">Besar</td>
<td width="170" valign="top">Besar</td>
<td width="130" valign="top">Kecil</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">Kerentanan terhadap serangan teroris dan   kerusuhan sosial</td>
<td width="161" valign="top">rentan (<em>lame duck</em>)</td>
<td width="170" valign="top">Amat rentan</td>
<td width="130" valign="top">Tidak rentan</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">Keandalan Sistranas</td>
<td width="161" valign="top"><em>Single-mode trap</em></td>
<td width="170" valign="top"><em>Single-mode trap</em></td>
<td width="130" valign="top">Multi-modality</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">
<p align="left">Dampak ekonomi regional  bagi Sumatra</p>
</td>
<td width="161" valign="top">terbatas,</td>
<td width="170" valign="top">terbatas</td>
<td width="130" valign="top">terbatas</td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">Pengembangan transportasi multi-moda</td>
<td width="161" valign="top">Merugikan,</p>
<p><em>permanent</em> <em>concavity</em></td>
<td width="170" valign="top">Merugikan</td>
<td width="130" valign="top">Menguntungkan, <em>dynamic   concavity</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="170" valign="top">
<p align="left"><em>Fairness,   public spending</em></p>
</td>
<td width="161" valign="top"><em>Unfair, </em></td>
<td width="170" valign="top"><em>Unfair</em></td>
<td width="130" valign="top"><em>Fair</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h3><strong>PENUTUP DAN KESIMPULAN</strong></h3>
<p>Solusi JSS dengan demikian merupakan solusi yang tidak layak. Anggaran yang tersedia dari kapasitas fiskal yang terbatas dapat dipakai untuk meningkatkan cakupan dan mutu Trans-Sumatra sehingga integrasi pasar domestik di Sumatra dapat diwujudkan dengan biaya yang jauh lebih murah, terutama yang berbasis rel (kereta api), bukan <em>toll road, </em>hingga ke pelabuhan-pelabuhan. Pengembangan infrastruktur serupa bagi pantura Pulau Jawa akan memberi dampak ekonomi regional yang amat signifikan.</p>
<p>Kebijakan yang dihasilkan dari cara pandang benua/pulau besar yang tidak bersahabat dengan taqdir alamiah kita sebagai Negara kepulauan akan berpotensi selalu memaksakan solusi moda-tunggal jembatan untuk Indonesia yang kepulauan ini. Yang paling diuntungkan dengan solusi jembatan adalah para spekulan dan tuan tanah yang menguasai lahan di kawasan kaki-kaki jembatan. Jika cara pandang ini dipertahankan terus, kita boleh khawatir bahwa agenda untuk mempromosikan infrastruktur multi-moda dengan membangun pemerintahan di laut yang efektif akan semakin terbelakangkan. Dengan kondisi <em>uni-modality</em> yang semakin kritis saat ini, dan sumberdaya kepulauan yang terbengkalai, kita tidak saja tidak memiliki masa depan,  keutuhan negara-bangsa ini juga dipertaruhkan.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://danielrosyid.com/transformasi-indonesia-2050-pendidikan-gagal-membangun-bangsa-yang-berdisiplin.html" rel="bookmark" class="crp_title">Transformasi Indonesia 2050 (2): Pendidikan Gagal Membangun Bangsa yang Berdisiplin</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/its-sebagai-universitas-maritim.html" rel="bookmark" class="crp_title">ITS Sebagai Universitas Maritim</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/pendidikan-waktu-sebuah-strategi-budaya.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pendidikan Waktu: Sebuah Strategi Budaya</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/4-implikasi-merusak-ketidakpekaan-waktu.html" rel="bookmark" class="crp_title">Transformasi Indonesia 2050 (4): Implikasi Merusak Ketidakpekaan Waktu</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/3-pengertian-dari-waktu-dan-mengapa-ia-begitu-penting.html" rel="bookmark" class="crp_title">Transformasi Indonesia 2050 (3): Pengertian dari Waktu dan Mengapa Ia Begitu Penting</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://danielrosyid.com/jembatan-selat-sunda-blunder-konsep-dan-teknomik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Waktu: Sebuah Strategi Budaya</title>
		<link>http://danielrosyid.com/pendidikan-waktu-sebuah-strategi-budaya.html</link>
		<comments>http://danielrosyid.com/pendidikan-waktu-sebuah-strategi-budaya.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 05:11:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Rosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dmrosyid.wordpress.com/2007/08/03/pendidikan-waktu-sebuah-strategi-budaya/</guid>
		<description><![CDATA[Demi waktu, Sungguh manusia dalam keadaan merugi, Kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih, dan Saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran Al Qur’an, - Surat al ‘Asr Pendahuluan Sejarah peradaban manusia telah dengan jelas menunjukkan kepada kita, bahwa kekayaan sumberdaya alam, warna kulit, dan kecerdasan sumberdaya manusia semata tidak menentukan keberhasilan sebuah bangsa menjadi bangsa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Demi waktu,<br />
Sungguh manusia dalam keadaan merugi,<br />
Kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih, dan<br />
Saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran Al Qur’an,<br />
<em>- Surat al ‘Asr</em></p></blockquote>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-139" title="pendidikan-waktu-strategi-budaya" src="http://danielrosyid.com/wp-content/uploads/2007/09/pendidikan-waktu-strategi-budaya.jpg" alt="pendidikan-waktu-strategi-budaya" width="570" height="180" /></p>
<h3>Pendahuluan</h3>
<p>Sejarah peradaban manusia telah dengan jelas menunjukkan kepada kita, bahwa kekayaan sumberdaya alam, warna kulit, dan kecerdasan sumberdaya manusia semata tidak menentukan keberhasilan sebuah bangsa menjadi bangsa yang maju dan makmur. Sebuah bangsa membutuhkan sikap, disiplin, integritas, kemauan bekerja keras, kepatuhan pada hukum dan peraturan, penghargaan kepada hak-hak orang lain, dan kegairahan untuk melakukan perbaikan terus menerus agar menjadi bangsa yang maju dan makmur.<span id="more-18"></span></p>
<p>Masalahnya adalah, jika pendidikan kita dapat didefinisikan sebagai sebuah proses memaknai seluruh pengalaman hidup kita,  pendidikan selama ini didekati secara formalistik sebagai sebuah sektor di antara sektor-sektor lainnya.  Kebijakan pembangunan pendidikan nasional gagal menyadarkan kita untuk akrab dengan lingkungan kita sendiri dan kreatif menyediakan solusi-solusi bagi beragam persoalan kehidupan kita. Sebagai negara agraris, harus dikatakan, bahwa pembangunan pertanian kita saja tidak menunjukkan kinerja yang membanggakan, apatah lagi kinerja pembangunan kelautannya. Pendek kata, pendidikan kita gagal mengantarkan kita untuk memiliki kompetensi teknikal, dan sosial yang diperlukan untuk mengubah sumberdaya alam yang melimpah itu menjadi sumber kemakmuran dan kemajuan. Kita mengalami disorientasi dengan terlalu menekankan penguasaan kompetensi-kompetensi kognitif-akademik yang sempit, namun kurang memperhatikan jenis kecerdasan lainnya (menurut Howard Gardner ada delapan kecerdasan di luar kecerdasan linguistik dan matematik), termasuk <em>soft-competence</em> –seperti disiplin- yang justru dalam banyak hal jauh lebih menentukan keberhasilan kita sebagai individu maupun bangsa.</p>
<p>Sewaktu kita di sekolah dan di kampus, sekolah dan kampus gagal mengembangkan kemandirian kita sebagai agen-agen perubahan (<em>change agents</em>) yang mengambil sikap kritis pada proses-proses pembangunan, namun seringkali justru menjadi benteng kemapanan, dan mereduksi diri menjadi sekedar diploma mills (pabrik ijazah). Kampus juga menjadi contoh yang buruk dalam manajemen waktu : prosentase mahasiswa yang mampu menyelesaikan kuliah tepat waktu (8 semester/ 4 tahun) cukup rendah (lihat Tabel 1). Kegagalan pendidikan kita tidak saja telah menyebabkan tidak saja sektor pertanian dan kelautan kekurangan para enterpreneur –sebagai agen perubahan- dan tenaga kerja dengan wawasan dan kompetensi yang memadai, dua sektor inipun merupakan dua sektor yang kurang berkembang, dan kurang terurus, terlebih sektor kelautannya.</p>
<p>Kita sering dengan mudah mengambil kesimpulan bahwa keterbelakangan kita merupakan akibat dari sistem yang brengsek, ketiadaan leadership atau moral kita yang buruk. Beberapa sosiolog terkemuka mengatakan bangsa kita ini termasuk bangsa dan negara yang lembek (<em>soft nation and state</em>). Dalam rangka mengikhtiarkan perbaikan daya saing bangsa Indonesia dalam kancah kompetisi global saat ini Saya setuju, namun saya akan fokus pada satu persoalan pokok bangsa ini: ketidakpekaan (<em>insensitivity</em>) dan ketidakdisiplinan (<em>indiscipline</em>) kita terhadap waktu. Thesis saya adalahIndonesia hanya bisa keluar dari keterpurukan dan bangkit menuju kemajuan hanya dengan satu jalan : membangun budaya waktu yang sehat. Tabel 1. Prosentase mahasiswa yang selesai tepat waktu (8semester) TA 2006-2007</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="103" valign="top">
<p align="center">
</td>
<td style="text-align: center;" width="132" valign="top">Universitas Indonesia</td>
<td style="text-align: center;" width="108" valign="top">ITS Surabaya</td>
<td style="text-align: center;" width="132" valign="top">Universitas Hasanudin</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">Prosentase lulus tepat waktu</td>
<td style="text-align: center;" width="132" valign="top">51%</td>
<td style="text-align: center;" width="108" valign="top">44%</td>
<td style="text-align: center;" width="132" valign="top">21,42%</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Jika budaya merupakan basis kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan teknologi sebuah masyarakat, maka ciri pokok yang membedakan sebuah bangsa yang maju dengan yang terbelakang adalah budaya waktunya. Artinya, sementara bangsa yang maju memiliki budaya waktu yang sehat, bangsa yang terbelakang tidak memilikinya. Budaya waktu yang tidak sehat pada sebuah masyarakat dicerminkan dari ketidakpekaan waktu masyarakat tersebut. Ketidakpekaan waktu menyebabkan implikasi merusak yang luas di berbagai bidang kehidupan masyarakat tersebut. Salah satu akibatnya adalah ketidakdisiplinan terhadap waktu, dan ini selanjutnya merupakan sumber keterbelakangan masyarakat tersebut.</p>
<p><strong>Pertama</strong>,  ketidakpekaan kita terhadap waktu menyebabkan kita sulit berubah, dan takut menghadapi –jangankan memulai- perubahan. Waktulah yang menyediakan peluang perubahan terjadi –<em>time makes changes probable</em>. Jika manajemen merupakan seni mengubah sumberdaya yang terbatas untuk menghasilkan nilai tambah,  kapasitas manajemen bangsa ini rendah. Kita tidak menghargai efisiensi yang lazim diperoleh jika proses-proses dapat dipercepat (hemat waktu). Keterlambatan dan penundaan (<em>delays</em>) merupakan hal yang lazim dijumpai, dan menyebabkan berbagai macam bentuk t<em>ime-mismatches</em>. Ketidakpekaan waktu bangsa ini terbukti sebagian oleh kenyataan bahwa ilmu manajemen kita tertinggal, dan pendidikan manajemennya terlambat bangkit. (Sebagai catatan, program Magister Manajemen yang pertama di Indonesia dilakukan oleh UI pada akhir tahun 1980-an, sedangkan program MBA di Harvard sudah dimulai 80 tahun sebelumnya). Sekalipun orang sering mengatakan yang diperlukan adalah kemampuan menjalankan rencana (eksekusi), perencanaan yang  gagal sama saja dengan merencanakan kegagalan. Oleh karena itu kita melihat betapa banyak sektor yang mengalami salah urus (<em>mismanaged</em>, atau <em>under-managed</em>), dan akhirnya banyak proyek terlambat diselesaikan. Jika waktu merupakan sumberdaya yang penting karena sifatnya yang <em>ever-decreasing</em>, kesuksesan setiap manajemen amat ditentukan oleh kemampuannya mengelola waktu (<em>time management</em>) yang terbatas.</p>
<p>Dari sudut pandang manajemen, waktu merupakan variable yang paling independen (<em>most independent and least controllable</em>). Mengelola waktu merupakan kegiatan terpenting untuk sukses dalam hidup pribadi maupun bisnis. Baik kualitas Q (perhatian pembangunan di era pertanian), maupun efisiensi E (perhatian era industri), dan waktu penyerahan D (<em>delivery</em>) pada akhirnya tergantung oleh waktu (perhatian utama era informasi).Di era teknologi informasi ini, persaingan akan dimenangkan oleh mereka yang tercepat, bukan yang terkuat. Bill Gates –CEO Microsoft- bahkan mengatakan ”<em>competition at the speed of light</em>”. Dengan mempercepat proses (memajukan jadwal penyerahan/<em>delivery</em>), mutu akan naik, sementara biaya akan turun. Kunci keberhasilan QED ini pada disiplin waktu.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, ketidakpekaan kita terhadap waktu juga menghambat kita untuk berpikir proses dalam sebuah sistem (<em>process and system thinking</em>). Proses hanya mungkin atau pantas dilakukan jika waktu masih ada. Berpikir proses berarti berpikir sistem, berorientasi tujuan, bekerjasama dengan komponen-komponen sistem lainnya, pada waktu yang tepat dalam sebuah orkestrasi. Di samping pendidikan yang terkotak-kotak menjadi disiplin-disiplin yang berbeda-beda, ego-sektor merupakan gejala yang lazim ditemui sejak tahap perencanaan dimulai. Padahal, waktu-lah yang menyatukan berbagai macam sektor tersebut (t<em>ime alignment</em>). Oleh karena itu, sinergi dan koordinasi di tingkat pelaksanaan seringkali hanyalah ilusi belaka, begitu perencanaanya tidak memadu –bukan terpadu. Artinya, aspek keterpaduan yang terpenting adalah keterpaduan waktu. Perencanaan yang baik memadukan berbagai sumberdaya dan komponen sistem, tidak terpadu secara ajaib dengan sendirinya (otomatis). Perencanaan yang memadu memerlukan ikhtiar, dan kesanggupan bekerjasama pada waktu yang tepat. Perencanaan yang tidak memadu telah mendorong ketidaksimetrian informasi antar-sektor yang luas, menyebabkan kegiatan pembangunan sebagai upaya perubahan menjadi tidak efisien dan tidak efektif, serta  membuka peluang korupsi. Banyak kegagalan, dan kesenjangan spasial, seringkali disebabkan oleh kesenjangan temporal (<em>time-gap</em>).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, ketidakpekaan kita terhadap waktu juga menjelaskan mengapa kemampuan rekayasa (<em>engineering</em>) kita lemah, sehingga bangsa ini tetap saja tinggal menjadi konsumen teknologi belaka. Sementara itu,  banyak penggunaan berbagai bentuk teknologi tidak membawa manfaat sebesar yaang kita harapkan. Rekayasa merupakan sebuah proses penambahan nilai (<em>value-adding process</em>) melalui transformasi sumber-sumberdaya yang terbatas. Banyak produk-produk rekayasa buatan manusia ditujukan terutama untuk mempercepat (waktu) beragam kegiatan manusia. Kebutuhan untuk melakukan rekayasa hanya tumbuh jika kita memiliki kepekaan waktu yang tinggi. Percepatan berbagai macam kegiatan  dapat dilakukan dengan memperkuat kapasitas manusia untuk melakukan berbagai kegiatan produksi dan distribusi barang-barang dan jasa-jasa. Tanpa rekayasa teknologis ini, produktifitas manusia modern tidak akan setinggi saat ini. Banyak insentif yang dijanjikan oleh aplikasi teknologi justru sirna oleh ketidakdisplinan terhadap waktu.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, ketidakpekaan kita terhadap waktu telah mengakibatkan sektor jasa kita tertinggal perkembangannya. Mutu sektor jasa (<em>services</em>) –baik publik maupun swasta- ditentukan oleh kecepatan layanan tersebut sebagai dimensi pengalaman yang penting bagi seorang pelanggan. Bahkan orientasi pada pelanggan kita masih rendah. Ada pameo dan seloroh di kalangan masyarakat tentang sikap birokrasi  : jika bisa dipersulit (artinya diperlama waktu pengurusannya), mengapa harus dipermudah (dipercepat) ? Penggunaan teknologi informasi hampir-hampir tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, karena sikap birokrasi yang masih saja tidak menghargai waktu.</p>
<p>Persoalan-persoalan di sektor pelayanan publik seperti transportasi jelas-jelas menunjukkan betapa kita tidak memiliki kepekaan waktu yang memadai untuk bersikap disiplin waktu. Di samping kebijakan transportasi yangtidak berorientasi publik, kecenderungan kita memilih sarana transportasi individual (motor ataupun mobil) daripada transportasi publik, terutama kereta api, menunjukkan kapasitas disiplin waktu kita yang rendah. Pengelolaan transportasi berbasis rel mensyaratkan kemampuan dan disiplin waktu yang amat tinggi. Jepang bisa menjadi contoh bagaimana disiplin waktu dipertontonkan dalam pengelolaan transportasi kereta apinya yang amat maju.</p>
<p>Berbagai macam kecelakaan transportasi di Indonesia akhir-akhir ini telah mengakibatkan tidak saja masyarakat domestik mulai meragukan aspek-aspek keselamatan transportasi, masyarakat internasional pun mulai ”menghukum” kita. Integritas sistem-sistem kereta api, kapal laut, dan pesawat terbang amat ditentukan oleh kesuksesan operasi (<em>operational success</em>) perusahaan-perusahaan yang mengoperasikannya. Kesuksesan operasi ini akan menentukan dan selanjutnya ditentukan oleh integritas sistem-sistem teknologis sarana-sarana transportasi tersebut. Keandalan sistem-sistem ini semuanya ditentukan oleh dukungan logistik yang merupakan  <em>time-driven activities</em> (umur, jadwal perawatan dan penggantian suku cadang). Baru-baru ini Uni Eropa telah mengeluarkan larangan terbang atas maskapai penerbangan Indonesia, termasuk Garuda Indonesia. Bahkan Kerajaan Saudi Arabia telah mengindikasikan sikap serupa terhadap Garuda Indonesia.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, ketidakpekaan kita terhadap waktu, di satu sisi telah menghambat kapasitas kita untuk berpikir jangka panjang ke masa depan, dan, di sisi lain, apresiasi kita yang rendah terhadap sejarah. Kita cenderung berpikir jangka pendek, dan instan, tidak memiliki visi yang jelas, dan oleh karenanya mudah tidak bersabar. Kita menjadi enggan merencanakan, dan kegiatan planning (bagi manajer, atau visioning bagi pemimpin) dinilai sebagai pekerjaan yang tidak penting.  Orang sering mangatakan bahwa perencanaan itu tidak terlalu penting, yang lebih penting adalah pelaksanaannya.</p>
<p>Kita juga tidak tahan menghadapi ketidakpastian dan ketidakjelasan (<em>fog of the future</em> yang diakibatkan oleh rentang waktu yang panjang dan dibawa oleh masa depan), sehingga terjebak pada isu-isu yang serba-pasti dan serba-jelas, serta kuantitatif . Padahal kita tahu, bahwa semakin pasti, jelas, dan quantifiable sesuatu, semakin tidak penting hal-hal tersebut. Akibatnya, kita enggan berpikir strategis, berpikir atas sesuatu yang benar-benar penting dan kualitatif, dan terlena berpikir atas yang sepele,  remeh-temeh, teknis dan kuantitatif. Penghargaan berlebihan terhadap jurusan IPA dan meremehkan IPS dan bahasa sewaktu di SMA merupakan kecenderungan-kecenderungan yang tidak sehat yang masih terjadi sampai hari ini.</p>
<p>Karena memimpin berarti membawa pengikut ke masa depan, keengganan menghadapi ketidakpastian dan ketidakjelasan ini merupakan sumber krisis kepemimpinan kita saat ini. Dalam sejarah Indonesia modern, kita bisa melihat bahwa kegagalan Habibienomics sebagian disebabkan karena Indonesia kekurangan kepemimpinan intelektual budaya yang mampu mengimbangi kepemimpinan teknologi Habibie yang amat menonjol saat itu.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Keenam</strong>, ketidakpekaan kita terhadap waktu membuat kita tidak menghargai dinamika. Ketumpulan dinamik (<em>dynamic blunt</em>) menyebabkan bangsa Indonesia menjauhi anugerah Tuhan yang terbesar pada bangsa ini, yaitu anugerah kekayaan kelautan dan kepulauan Nusantara ini. Jika ciri menonjol budaya agraris (pertanian) adalah ”kediamannya”, ciri terpenting laut adalah ”perubahannya” (dinamikanya) yang dicerminkan oleh fenomena gerakan (<em>motion</em>) dan aliran (<em>flow</em>) : Jika kita diam dalam satu koordinat di laut, sebentar saja posisi kita sudah berubah akibat aliran gelombang, arus dan angin.</p>
<p>Di samping pendidikan yang tidak diorientasikan secara lebih seimbang ke laut, ketumpulan dinamik membuat bangsa Indonesia kesulitan memahami laut, dan telah mendorong masyarakat kita melihat laut lebih sebagai misteri dengan penuh rasa takut, daripada sebagai anugerah dan potensi kemakmuran yang perlu dikelola. Pemerintah kolonial Belanda berhasil menjajah negeri ini selama tiga ratus tahun lebih dengan menguasai lautnya setelah menghancurkan infrastruktur kekuatan-kekuatan (kerajaan-kerajaan) pesisirnya. Kepekaan waktu-lah –yang khas negara maju- yang pernah membuat Inggris dan Belanda, kemudian AS sebagai kekuatan maritim global terbesar di dunia saat ini, sekalipun AS bukan negara kepulauan. Anggaran riset di bidang kelautan AS bahkan menyamai anggaran pendidikan nasional Indonesia.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, ketidakpekaan kita terhadap waktu telah membuat kita terlena dengan time zoning yang merugikan selama bertahun-tahun. Sekalipun secara alamiah Indonesia membentang ke tiga wilayah waktu,  namun pembagian wilayah waktu Indonesia justru merugikan. Akibat Indonesia terbagi dalam 3 wilayah/zona waktu, jendela transaksi ekonomi, sosial, budaya, dan politik menjadi lebih pendek 2-4 jam setiap hari, selama bertahun-tahun. Implikasi politik (dalam arti keutuhan NKRI) akibat ”keterpecahan waktu” (time-misalignment) ini tidak bisa diremehkan untuk Indonesia yang amat majemuk dan luas ini. Untuk mempermudah upaya-upaya mempersatukan Indonesia, keterpecahan waktu ini harus segera diakhiri.</p>
<p>Merauke harus menunggu 2 jam, dan Makasar 1 jam setelah buka kantor untuk mulai melakukan transaksi dengan mitranya di Jakarta. Dan mereka harus tutup 2 jam (Merauke) dan 1 jam (Makassar) sebelum mitra Jakartanya tutup. Industri listrik, penerbangan, pariwisata, televisi, perbankan, dan perdagangan pada umumnya dirugikan akibat zonasi waktu ini.  Seperti Cina, Indonesia yang memiliki bentang geografis yang setara seharusnya menggunakan satu wilayah waktu saja –sebut saja Waktu Kesatuan Indonesia-, dengan mengacu pada Waktu Indonesia Tengah (waktu Denpasar) agar terintegrasi dengan pasar utama Asia  (Hongkong dan Singapura). Ini menunjukkan, Cina lebih cerdas mengelola waktunya daripada kita.</p>
<h3><img class="aligncenter size-full wp-image-140" title="bangun-budaya-waktu" src="http://localhost/daniel/wp-content/uploads/2007/09/bangun-budaya-waktu.jpg" alt="bangun-budaya-waktu" width="570" height="180" /></h3>
<h3>Pendidikan Liberal Arts : Membangun Budaya Waktu</h3>
<p>Dalam rangka melahirkan agen-agen perubahan di masyarakat, khususnya dalam rangka menyiapkan SDM yang mengemban tugas mentransformasikan sumberdaya alam menjadi besaran-besaran nilai tambah yang tinggi, pendidikan terpenting adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran, penghargaan, dan kepatuhan (disiplin) terhadap waktu. Artinya, aspek disiplin yang terpenting adalah disiplin waktu (<em>time discipline</em>). Bagaimana kita menumbuhkan kepekaan waktu dan, kemudian, disiplin waktu ? Strategi terpenting dalam pendidikan yang membangun kepekaan terhadap waktu adalah bagaimana waktu tidak saja lebih mudah dipahami, namun juga menentukan keindahan dan kemenangan (dua hal yang menentukan kebahagiaan manusia, dan kejayaan sebuah bangsa) dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat sehari-hari.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, kepekaan dan disiplin waktu dapat diajarkan tidak melalui kekerasan, namun melalui pendidikan sejarah. Jika pendidikan berarti memandu peserta didik ke masa depan, gagasan tentang masa depan ini hanya bermakna jika masa lalu  juga memperoleh pemaknaan yang setara. Waktu sebagai rangkaian peristiwa dapat lebih dimaknai jika pendidikan sejarah disajikan dengan cara yang jauh lebih baik daripada yang diajarkan saat ini di sekolah-sekolah kita, tidak sekedar menghafalkan nama orang, serta tanggal, namun membahas peristiwa secara lebih komprehensif (menjawab pertanyaan mengapa, dan bagaimana).</p>
<p>Kita menyaksikan betapa pelajaran sejarah disajikan demikian menarik di negara-negara maju, dan betapa museum-musem mereka merupakan tempat rekreasi yang diminati, dan betapa mereka menghargai waktu. Sementara di negara-negara yang kurang maju dan tertinggal, pelajaran sejarah seringkali merupakan pelajaran yang membosankan, museum-museum nya penuh debu dan sepi pengunjung, dan penduduknya terkenal dengan budaya ”jam karet”.  Karena para pemimpin bangsa umumnya mereka yang belajar dan menghargai sejarah (ingat seruan Bung Karno untuk ”Jangan sekali-kali melupakan sejarah” –JAS Merah), pendidikan sejarah yang buruk tidak saja membuat kita tidak menghargai waktu, namun telah mengganggu kaderisasi kepemimpinan bangsa ini.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, kepekaan waktu harus dipupuk melalui budaya membaca. Sementara masa depan adalah gagasan dan masa lalu hanyalah ingatan –yang juga gagasan-,  waktu barangkali merupakan gagasan yang paling sulit untuk dicandra dan dipahami. Barangkali gagasan tentang waktu merupakan gagasan yang tersulit dipahami sesudah gagasan tentang Tuhan. Oleh karena itu, kemampuan menggagas merupakan prasyarat untuk peka terhadap waktu. Bahasa merupakan wadah di mana gagasan-gagasan itu disusun, dibentuk, dan bahkan diperjuangkan dalam bentuk tulisan, rencana-rencana, dan catatan-catatan peristiwa yang telah berlalu. Bahkan Indonesia, baik sebelum kemerdekaan 17 Agustus 1945, maupun saat ini, hanyalah gagasan belaka (<em>an imagined society</em>). Yang tercandra oleh mata hanyalah gunung-gunung dan lembah, hamparan laut biru, sungai-sungai, dan bentangan hijau sawah, serta rumah di kaki langit.</p>
<p>Membaca merupakan kegiatan yang ditujukan untuk memperluas wawasan dan mengembangkan kemampuan menggagas. Oleh karena itu, budaya membaca yang kuat merupakan prasyarat bagi budaya waktu yang sehat. Sayang sekali, kita gagal membangun budaya membaca. Kita melompat dari budaya tutur ke budaya nonton (TV). Jumlah judul buku baru yang terbit di Indonesia tidak lebih dari 5.000 judul/tahun, sementara di Malaysia sudah mencapai 15.000 judul/tahun, dan Inggris mencapai 100.000 judul tahun (ini termasuk buku karangan J.K. Rowling ”<em>Harry Potter</em>”). Di negara-negara maju, kita melihat orang membaca di mana-mana, termasuk sewaktu menunggu bis, kereta api, maupun pesawat terbang. Kemiskinan ekonomi merupakan akibat langsung dari kemiskinan gagasan.</p>
<p>Oleh karena inilah, pendidikan bahasa yang bermutu merupakan pondasi yang penting bagi pendidikan yang menumbuhkan budaya membaca yang sehat serta penghargaan atas gagasan. Pendidikan bahasa perlu dititikberatkan pada penguasaan penggunaannya dalam kehidupan –bukan teori tentang bahasa-, terutama berkomunikasi secara verbal, dan menulis (membuat kolom, laporan, komposisi, buku, dsb.).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, kepekaan terhadap waktu dapat ditumbuhkan melalui pendidikan seni, terutama pendidikan musik yang mengembangkan kecerdasan musikal. Tidak saja melalui pendidikan musik kita mengasah kepekaan kita terhadap tempo, ritme dan dinamika melalui <em>temporal experience</em> yang sehat, kita bahkan mengasah kecerdasan kognitif kita. Kita melihat bagaimana pendidikan musik di Indonesia tertinggal, sehingga kecerdasan musik rata-rata orang Indonesia rendah, dan mereka yang memiliki kecerdasan kognitif yang tinggi masih kalah dengan mereka –dengan kecerdasan skolastik yang sama- yang belajar musik.</p>
<p>Pemenang Nobel sains umumnya mereka yang, paling tidak, memiliki apresiasi musik yang tinggi, atau bahkan sanggup memainkan alat musik tertentu secara piawai. Bagi banyak orang, profesi musik sekalipun digandrungi (Indonesian Idol umumnya adalah penyanyi), masih saja dianggap tidak menjanjikan. Berbeda dengan di negara-negara miskin,  di negara maju, mereka yang terkaya sebagiannya adalah para pemusik. Pendidikan kita harus membuka jalan-jalan baru ke masa depan yang sama baiknya (bahkan lebih baik) bagi anak-anak dengan kecerdasan musik yang  tinggi.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, kepekaan terhadap waktu dapat ditumbuhkan melalui pendidikan jasmani (olahraga). Melalui pendidikan jasmani, kita belajar melalui pengalaman <em>spatial-temporal expereince</em> bagaimana kecepatan, kekuatan, stamina, dan koordinasi amat menentukan efektifitas dan efisiensi gerakan tubuh, dan –dalam permainan berkelompok- akan menentukan kemenangan. Segera perlu dicatat, bahwa pelatihan jasmani yang baik akan ikut menentukan perkembangan kecerdasan kognitif kita. Bahkan, banyak dari kita yang baru dapat ”belajar” dengan baik setelah melakukan kegiatan olahraga (yang menyenangkan) terlebih dahulu. Kita melihat, bagaimana pendidikan Indonesia tidak mengembangkan kecerdasan kinestetik ini. Porsi pendidikan olahraga, baik waktu, sarana dan prasarananya, tidak sepadan dibanding dengan porsi pendidikan akademik-skolastik. Dalam khasanah Islam, Rasulullah bahkan menganjurkan kita untuk belajar berenang, berkuda dan memanah.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, kepekaan terhadap waktu dapat ditumbuhkan melalui pendidikan yang mengembangkan ketrampilan mengelola waktu (<em>time management</em>). Salah satu cara menumbuhkan ketrampilan mengelola waktu adalah melalui pendidikan berbasis proyek (<em>project-based learning</em>) pemecahan masalah. Melalui pendidikan berbasis proyek ini, siswa diperkenalkan dengan penyelesaian masalah melalui pendekatan proyek dengan menggunakan sumberdaya yang terbatas, dalam jangka waktu tertentu, serta oleh sebuah tim. Ini sekaligus akan membangun kesadaran proses dan kesadaran sistem (organisasi), serta kemampuan bekerja dalam sebuah kelompok.</p>
<p>Pembelajaran berbasis proyek juga mendorong kita untuk membuat rencana dan menjadikan kegiatan merencanakan sebagai  kegiatan sehari-hari. Tanpa rencana, tidak ada prioritas, dan semua boleh dilakukan. Tanpa rencana berarti tanpa tujuan, dan evaluasi menjadi tidak relevan. Dengan merencanakan, tumbuh budaya penghargaan terhadap waktu yang sehat, dan kemudian mengembangkan disiplin waktu.  Rasulullah bahkan mengatakan ”Jadikan hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok hari lebih baik dari hari ini. Jika hari ini sama saja dengan kemarin, kamu rugi. Jika esok lebih jelek dari hari ini, kamu celaka”. Pesan Rasulullah ini mengandung hikmah bahwa kita harus senantiasa melakukan ”<em>continuous self improvement</em>”.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Kita mengamati betapa pendidikan kita selama ini perlu direorientasikan kembali untuk mengembangkan pendidikan liberal arts yang membangun kesadaran sejarah, kecerdasan-kecerdasan bahasa, dan musik, serta pendidikan jasmani yang membangun kecerdasan kinestetik. Pendidikan semacam ini akan meningkatkan citarasa keindahan dan kejayaan yang kemudian akan menjadi motif yang lestari bagi kemajuan bangsa. Pendidikan Indonesia selama ini terfokus hanya pada kecerdasan-kecerdasan skolastik-kognitif-akademik melulu. Kita tidak saja menjadi pengimpor produk-produk musik (budaya) asing, kita juga terpuruk di bidang olah raga, dan kemudian juga tertinggal di bidang sains dan teknologi.</p>
<p>Untuk mengeluarkan bangsa Indonesia dari kelompok bangsa tertinggal, pendidikan nasional perlu diarahkan agar warga negara memiliki kesadaran waktu dan, kemudian, disiplin waktu yang tinggi.  Kepekaan waktu ini dapat dipupuk melalui  kemampuan apresiasi warga negara pada sejarah, bahasa,  seni musik, dan olahraga. Apresiasi ini akan menjadi pijakan bagi disiplin waktu, dan kompetensi manajerial, dan rekayasa yang dibutuhkan untuk mentransformaikan sumberdaya alam nasional menjadi besaran-besaran nilai tambah yang membawa kesejahteraan dan kemakmuran.</p>
<p>Oleh karena itu benar, apabila Qur’an memberikan apresiasi yang tinggi terhadap budaya membaca (perintah dan ayat pertama Qur’an adalah perintah ”<em>iqra’ </em>!”), dan budaya waktu. Bahkan dikatakan ”waktu bagaikan pedang” (<em>al waqt ka a-syaif</em>). Bahkan semua orang akan merugi (jika mengabaikan waktu), dan ciri terpenting orang yang beriman adalah mereka yang menghargai waktu melalui amal shaleh (perbuatan yang membawa manfaat), dan cara hidup yang menghargai kebenaran dan (kesabaran) dalam mencapai tujuan hidup.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://danielrosyid.com/5-pendidikan-liberal-arts-membangun-kepekaan-waktu.html" rel="bookmark" class="crp_title">Transformasi Indonesia 2050 (5): Pendidikan Liberal Arts: Membangun Kepekaan Waktu</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/4-implikasi-merusak-ketidakpekaan-waktu.html" rel="bookmark" class="crp_title">Transformasi Indonesia 2050 (4): Implikasi Merusak Ketidakpekaan Waktu</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/transformasi-indonesia-2050-pendidikan-gagal-membangun-bangsa-yang-berdisiplin.html" rel="bookmark" class="crp_title">Transformasi Indonesia 2050 (2): Pendidikan Gagal Membangun Bangsa yang Berdisiplin</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/6-catatan-untuk-institut-teknologi-sepuluh-nopember-surabaya.html" rel="bookmark" class="crp_title">Transformasi Indonesia 2050 (6): Catatan Untuk Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/3-pengertian-dari-waktu-dan-mengapa-ia-begitu-penting.html" rel="bookmark" class="crp_title">Transformasi Indonesia 2050 (3): Pengertian dari Waktu dan Mengapa Ia Begitu Penting</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://danielrosyid.com/pendidikan-waktu-sebuah-strategi-budaya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

