<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>danielrosyid.com</title>
	<atom:link href="http://danielrosyid.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://danielrosyid.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 12 Feb 2012 12:09:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Dunia Setelah Sekolah</title>
		<link>http://danielrosyid.com/dunia-setelah-sekolah.html</link>
		<comments>http://danielrosyid.com/dunia-setelah-sekolah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Feb 2012 12:04:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Rosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielrosyid.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Potret Sekolah Dewasa ini Kecurangan tersistem selama Ujian Nasional yang difasilitasi guru, dan pembelajaran yang diabdikan untuk ujian2, serta formalisme kronis telah membuat sekolah menjadi ladang pembantaian karakter murid, dan pengasingan murid dari lingkungan masyarakatnya. Alih-alih menjadi solusi, sekolah saat ini telah menjadi bagian dari masalah. Kehadiran ICT telah dan sedang serta akan mengubah permainan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Potret Sekolah Dewasa ini</strong></p>
<p>Kecurangan tersistem selama Ujian Nasional yang difasilitasi guru, dan pembelajaran yang diabdikan untuk ujian2, serta formalisme kronis telah membuat sekolah menjadi ladang pembantaian karakter murid, dan pengasingan murid dari lingkungan masyarakatnya. Alih-alih menjadi solusi, sekolah saat ini telah menjadi bagian dari masalah. Kehadiran ICT telah dan sedang serta akan mengubah permainan, termasuk pendidikan. Posisi sekolah akan berubah untuk selama-lamanya. Siapapun harus menyesuaikan diri, terutama guru. Jika tidak, baik sekolah maupun guru akan menjadi dinosaurus, kehilangan relevansi. Pendidikan jelas bukan persekolahan, dan belajar bukan sekedar untuk lulus ujian.  Kita membutuhkan pemahaman baru tentang pendidikan, dan belajar agar warga muda kita mampu menyongsong masa depan secara kreatif. Pemahaman baru ini menuntut perubahan mendasar dalam kebijakan dan praksis pendidikan di masa depan.</p>
<p>Berbagai persoalan pendidikan, sejak gedung sekolah ambruk, keterlambatan pencairan BOS, RSBI yang diskriminatif, kecurangan Ujian Nasional, sampai sertifikasi guru model PLPG yang amburadul cukup banyak menyita perhatian banyak kalangan. Lalu solusi yang dilakukan Pemerintah adalah dengan menambah anggaran pendidikan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah peningkatan anggaran persekolahan.  Banyak orang tidak berpikir bahwa berbagai persoalan itu muncul justru karena adanya sekolah. Kepercayaan masyarakat pada sekolah menurun sehingga sekarang muncul gerakan <em>homeschooling.</em> Potret pendidikan Indonesia saat ini hampir sama dengan pendidikan di Amerika Latin yang digambarkan oleh Ivan Illich pada tahun 1970-an melalui bukunya ‘Deschooling Society”.</p>
<p>Pendidikan saat ini diartikan sebagai persekolahan dengan semua formalismenya yang sering dibangga-banggakan. Wajib belajar diartikan sebagai wajib sekolah. Sekolah berusaha keras memberi pesan dan kesan sebagai satu-satunya tempat belajar. Anak usia sekolah dilarang bekerja karena bekerja dianggap tidak belajar. Banyak dari kita saat ini sekolah sejak TK sampai perguruan tinggi, lalu setelah lulus baru mencari pekerjaan. Sekolah telah menjadi industri sendiri dengan aturan-aturannya yang kaku. Formalisme ini justru mengurangi daya serapnya terhadap kebutuhan murid yang beragam. Murid harus menyesuaikan kurikulum yang seragam,  bukan kurikulum yang menyesuaikan dengan kebutuhan murid. Pendekatan industri ini mengundang bahaya laten yang tidak disadari, karena seperti juga industri lainnya, sekolah sebagai industri memiliki siklus : bayi, tumbuh remaja, dewasa, matang, dan mati.</p>
<p>Syarat ijazah diberlakukan untuk banyak jabatan-jabatan publik, terutama pegawai negeri.  Inilah barangkali alasan terpenting mengapa sekolah masih ada dan dikunjungi murid : untuk mengisi lowongan PNS. Dalam perspektif sejarah, memang sekolah-sekolah kita tidak banyak berubah sejak masa kolonial : menyediakan pegawai bagi pemerintah penjajahan. Tidak ada alasan lain yg lebih penting. Lihat bagaimana rekrutmen PNS menjadi ajang sogokan.  Bahkan di daerah ada layanan Bimbel agar lolos tes PNS  !</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan sekolah menjadi bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi. Tidak sedikit guru mengajarkan kebohongan justru di sekolah. <em>Sing jujur malah ajur.</em> Guru lebih mengharapkan jawaban yang benar dari murid-muridnya, bukan jawaban yang jujur. Menyontek dianggap biasa. Banyak kekerasan justru terjadi di sekolah secara fisik maupun non-fisik. Guru lebih mudah marah bila murid datang tidak berseragam daripada jika ia tidak membawa buku.</p>
<p>Sekolah hanya tempat guru mengajar, bukan tempat murid belajar. Sekolah menjadi penjara, ruang yang sempit bagi ekspresi multi-ranah dan multi-cerdas. Boleh dikatakan tidak banyak kompetensi  yang bisa dipelajari di sekolah. Kreatifitas dimatikan, penjelajahan gagasan-gagsan baru tidak terjadi. Semakin lama bersekolah justru semakin tidak mandiri, semakin mudah menganggur. Jumlah pengangguran sarjana meningkat tajam.</p>
<p>Sekolah menjadi bagian penting mengapa klas menengah kita konsumtif, bukan produktif. Di sekolah, mentalitas pegawai justru ditumbuhsuburkan oleh guru. Banyak guru gagal menjadi teladan manusia yg berpikir bebas, dan mandiri. Desain pendidikan kolonial masih menjadi <em>grand design</em> pendidikan kita. Bahkan IKIP beberapa tahun silam malu melahirkan guru, lalu &#8220;pura-pura&#8221; berubah jadi universitas.</p>
<p>Sekolah juga berhasil  mengasingkan murid dari lingkungannya. Anak petani yang pintar diberi beasiswa masuk ke fakultas pertanian. Setelah lulus dia tidak mau jadi petani. Ini juga terjadi di masyarakat nelayan. Petani dan nelayan kita makin menua, dan daerah semakin ditinggal pemuda-pemudanya yang berbakat untuk bekerja di kota2 besar, menjadi pegawai di perusahaan-perusahaan besar atau pegawai negeri.</p>
<p>Dalam perspektif evolusi kelembagaan, sekolah hanyalah kreasi kelembagaan masyarakat yg usianya belum 150 tahun. Kita baru mengenal sekolah di akhir abad 19 atau awal abad 20, terutama akibat Politik Etis Belanda. Sekolah-sekolah Belanda dirancang untuk merekrut pegawai (negeri) untuk kepentingan penjajahan. Sebelumya yang kita kenal adalah pesantren sebagai sebuah sistem pendidikan yang non-formal, bahkan informal. Mentor-mentor Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, dsb.  seperti HOS Tjokroaminoto, Hasyim Asyhari, Ahmad Dahlan, dan Agus Salim, kebanyakan adalah otodidak yang senang membaca, menulis, dan bicara di samping aktivis pergerakan. Dulu orang pagi bekerja atau magang, sore atau malam mondok. Dunia kerja dan belajar tidak dipisahkan secara tegas. Belajar diniyatkan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan yang sedang digeluti, tidak untuk memperoleh ijazah untuk melamar pekerjaan.</p>
<p><strong>Redefinisi Pendidikan</strong></p>
<p>Tentu tampak agak menggelikan untuk memecahkan banyak masalah pendidikan kita justru dimulai dengan mendefinisikan kembali apa yang dimaksud dengan pendidikan. Ini pertama untuk menyelamatkan pendidikan dari reduksi persekolahan. Kita akan lihat bahwa untuk mendidik kita tidak perlu mensyaratkan sekolah. Semua tempat bisa menjadi tempat belajar, semua orang menjadi guru sekaligus murid. Ki Hadjar Dewantoro mendefinisikan pendidikan sebagai <strong>ngerti, ngroso, nglakoni </strong>(memahami, merasakan, melakukan).</p>
<p>Jelas praktek pendidikan saat ini telah direduksi menjadi sekedar <strong>ngerti.</strong> Peminggiran pendidikan seni dan olahraga, misalnya, jelas meminggirkan <strong>ngroso</strong>. Persekolahan kita juga tidak menghargai <strong>nglakoni</strong> (praktek dan pengalaman). Pendidikan kita direduksi menjadi semakin informasional, miskin praktek pengalaman (<em>experiential</em>). Banyak pihak menyangka dengan menambah jam pendidikan Pancasila, murid-murid akan semakin Pancasilais. Bahkan pendidikan semakin jauh dan kering dari berkarya dalam perspektif <em>makership</em> (membuat sesuatu dengan tangan), sehingga pendidikan vokasi dianggap lebih rendah daripada pendidikan akademik.</p>
<p align="center">Konsep pokok dalam pendidikan adalah belajar. Kita sering mendengar mantra <em>learning to know, to be, to do, and to live together in peace and harmony.</em> Praktek pendidikan kita saat ini jelas amat jauh dari mantra universal ini. Belajar dapat dipahami sebagai proses memaknai pengalaman, sedang pengalaman adalah dongeng tentang aku dan sekelilingku. Untuk menkonstruksikan pengalaman, kita membutuhkan 3 konsep pokok : aku, waktu, dan ruang. Tanpa “aku”, seseorang tidak bisa membangun pengalaman, ngerti dan ngroso. Kepekaan waktu dan ruang diasah dengan nglakoni. Dan tanpa pengalaman, seseorang tidak bisa belajar. Proses memaknai pengalaman ini dilakukan dengan mengikuti sebuah siklus belajar :  alami-baca-tulis-bicara.<strong></strong></p>
<p>Konstruksi pengalaman akan lengkap dengan memperkenalkan konsep keempat, yaitu “Tuhan”. Tuhan adalah esensi, sedangkan alam adalah simbol atau tanda-tanda Tuhan.   Membaca, menulis, dan bicara adalah tahapan pembelajaran simbolik yang penting. Namun harus segera dicatat bahwa akhirnya tujuan belajar adalah untuk memperbaiki praktek yang member pengalaman multi-ranah multi-cerdas. Tradisi dibangun dan dimutakhirkan melalui siklus belajar ini.</p>
<p>Membaca merupakan penciri kita sebagai makhluq simbolik yang hidup tidak hanya di dunia fisik, tapi juga di dunia simbol. Kapasitas simbolik inilah yang memungkinkan kita melakukan abstraksi dan imajinasi yang dibutuhkan dalam proses kreatif, yaitu menulis atau menggambar. Menulis dengan demikian merupakan pekerjaan kreatif pertama dan utama yang penting bagi pembelajar. Sedangkan bicara adalah tahapan belajar terakhir, yaitu mengkomunikasikan pengalaman. Segera perlu dicatat bahwa siklus belajar ini digerakkan oleh sebuah siklus lain, yaitu siklus kebenaran bukti-cari-tegak-sebar. Artinya, praktek adalah membuktikan kebenaran, membaca adalah mencari kebenaran, menulis adalah menegakkan kebenaran, sedangkan bicara adalah menyebarkan kebenaran.  Kedua siklus ini memperkuat siklus lainnya, yaitu siklus karakter amanah-jujur-cerdas-peduli.</p>
<p>Mendidik dengan demikian dapat diartikan sebagai menumbuhkan kesetiaan pada kebenaran dan keberanian berkarya sebagai bukti dari iman. Sedangkan belajar dapat diartikan sebagai tumbuh amanah, jujur, cerdas dan peduli.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Telah disajikan sebuah gambaran Illichian tentang kondisi sekolah-sekolah kita saat ini. Untuk mengembalikan pendidikan dari reduksionisme persekolahan, telah diajukan sebuah definisi pendidikan dan belajar yang tidak terikat dengan sebuah sistem formal tertentu. Pendidikan didefinisikan dalam perspektif belajar. Belajar adalah kegiatan yang paling spiritual yang bisa dilakukan oleh setiap manusia sebagai makhluq simbolik.</p>
<p>Saat ini kita tidak mampu membayangkan sebuah dunia tanpa sekolah. Mengapa  ? Karena sekolah sudah menjadi lembaga yang <em>taken for granted</em>. Padahal sekolah-sekolah saat ini menyimpan misi bisnis. Yang bakal mati-matian mempertahanlan sekolah adalah eks-IKIP. Padahal yang kita butuhkan adalah pendidikan, bukan persekolahan. Banyak orang sekolah tinggi-tinggi, tapi tetap saja tidak terdidik. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah, sedang, dan akan mengubah semua permainan, termasuk pendidikan. Guru dan sekolah yang tidak berubah akan segera tidak relevan lagi. ICT bakal mempercepat pengusangan sekolah. Jika sekolah dan tidak mereposisi diri, tidak lama lagi sekolah akan menjadi dinosaurus abad 21.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://danielrosyid.com/sekolahrumah-kebutuhan-layanan-pendidikan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Sekolahrumah (2): Kebutuhan Layanan Pendidikan</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/pengorbanan-di-zaman-edan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pengorbanan di Zaman Edan</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/sekolahrumah-strategi-deschooling-dalam-peningkatan-kinerja-sistem-pendidikan-nasional.html" rel="bookmark" class="crp_title">Sekolahrumah (1): Strategi Deschooling dalam Peningkatan Kinerja Sistem Pendidikan Nasional</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/sekolahrumah-strategi-deschooling.html" rel="bookmark" class="crp_title">Sekolahrumah (3): Strategi Deschooling</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/kematian-kreativitas.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kematian Kreativitas</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://danielrosyid.com/dunia-setelah-sekolah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nurturing Creativity in 21-C Universities</title>
		<link>http://danielrosyid.com/nurturing-creativity-in-21-c-universities.html</link>
		<comments>http://danielrosyid.com/nurturing-creativity-in-21-c-universities.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 09:21:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Rosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kreativitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielrosyid.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Regions compete for the best talents Regional creativity 3T = Technological infrastructures, Talents, Tolerance in a diverse world Universities to provide healthy streams of young skilled talents Nurturing creativity in universities Related Posts:Menulis atau Mati SajaMembangun Kepemimpinan Kreatif Sektor Bisnis dan PublikPendidikan Budi PekertiITS Rectorship PlatformTransformasi Indonesia 2050 (2): Pendidikan Gagal Membangun Bangsa yang Berdisiplin]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Regions compete for the best talents<br />
Regional creativity 3T = Technological infrastructures, Talents, Tolerance in a diverse world</p>
<p>Universities to provide healthy streams of young skilled talents</p>
<div style="width:550px" id="__ss_10022083"> <strong style="display:block;margin:12px 0 4px"><a href="http://www.slideshare.net/akhmadguntar/nurturing-creativity-in-universities" title="Nurturing creativity in universities" target="_blank">Nurturing creativity in universities</a></strong> <object id="__sse10022083" width="550" height="434"><param name="movie" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=nurturingcreativityinuniversities-111104041825-phpapp01&#038;stripped_title=nurturing-creativity-in-universities&#038;userName=akhmadguntar" /><param name="allowFullScreen" value="true"/><param name="allowScriptAccess" value="always"/><embed name="__sse10022083" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=nurturingcreativityinuniversities-111104041825-phpapp01&#038;stripped_title=nurturing-creativity-in-universities&#038;userName=akhmadguntar" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="550" height="434"></embed></object> </p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://danielrosyid.com/menulis-atau-mati-saja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Menulis atau Mati Saja</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/kepemimpinan-kreatif-sektor-bisnis-dan-publik.html" rel="bookmark" class="crp_title">Membangun Kepemimpinan Kreatif Sektor Bisnis dan Publik</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/pendidikan-budi-pekerti.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pendidikan Budi Pekerti</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/its-rectorship-platform.html" rel="bookmark" class="crp_title">ITS Rectorship Platform</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/transformasi-indonesia-2050-pendidikan-gagal-membangun-bangsa-yang-berdisiplin.html" rel="bookmark" class="crp_title">Transformasi Indonesia 2050 (2): Pendidikan Gagal Membangun Bangsa yang Berdisiplin</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://danielrosyid.com/nurturing-creativity-in-21-c-universities.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengorbanan di Zaman Edan</title>
		<link>http://danielrosyid.com/pengorbanan-di-zaman-edan.html</link>
		<comments>http://danielrosyid.com/pengorbanan-di-zaman-edan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 12:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Rosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielrosyid.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Melampaui dekade pertama Abad 21, saat ini kita menghadapi tumpukan persoalan domestik yang tak kunjung selesai, serta lingkungan global yang tidak menentu. Sementara demokrasi menumbangkan rezim otoriter di Mesir, Tunisia, dan Libya,  demokrasi prosedural di Indonesia gagal merekrut pemimpin yang amanah, kemudian desentralisasi gagal membawa janji kesejahteraan masyarakat di daerah. Pendidikan nasional juga gagal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Melampaui dekade pertama Abad 21, saat ini kita menghadapi tumpukan persoalan domestik yang tak kunjung selesai, serta lingkungan global yang tidak menentu. Sementara demokrasi menumbangkan rezim otoriter di Mesir, Tunisia, dan Libya,  demokrasi prosedural di Indonesia gagal merekrut pemimpin yang amanah, kemudian desentralisasi gagal membawa janji kesejahteraan masyarakat di daerah. Pendidikan nasional juga gagal menyediakan warga negara yang sehat, produktif, dan berbudaya. Di tengah krisis lingkungan hidup akibat pemanasan gobal yang ditingkahi oleh krisis keuangan global dan krisis kapitalisme Barat saat ini, bangsa Indonesia mungkin bisa memetik hikmah Iedul Qurban untuk merumuskan sikap solutif.</p>
<p>Beberapa tokoh menyebut keadaan ini sebagai zaman edan, sebuah zaman di mana jika kita tidak ikut edan kita bakal tidak kebagian “kue” pembangunan. Di tingkat nasional, kue pembangunan ini biasanya diambil dari APBN/APBD yang dikorupsi melalui berbagai macam cara. Kemiskinan dan kesenjangan masih menjadi masalah yang serius. Banyak pengusaha yang ternyata kekayaannya diperoleh melalui “pembocoran” APBN/APBD ini. Kapitalis palsu ini lazim bekerjasama dengan para profesional yang “bisa dibeli” di lingkungan birokrasi dan swasta, seperti para insinyur, arsitek, dan akuntan. Kemudian situasi diperparah oleh perilaku polisi, jaksa, hakim, dan pengacara yang tidak profesional yang meramaikan pesta bancakan APBN/APBD ini. Akhirnya pelayanan publik terbengkalai, wong cilik terlantar.</p>
<p>Di dunia pendidikan, sekolah gagal membangun masyarakat yang memiliki budaya membaca yang sehat sebagai syarat menjadi masyarakat yang maju dan produktif. Masyarakat yang tidak membaca ini menjadi korban empuk pornografi. Banyak guru bahkan melakukan banyak  tindakan tercela dengan menjual bocoran ujian, menjadi joki saat ujian, atau memberi les berbayar di luar sekolah agar nilai muridnya menjadi lebih tinggi. Lebih buruk lagi, kejujuran dilecehkan dan direndahkan bahkan sejak pendidikan dasar, sekedar untuk memperoleh kelulusan ujian ! Bahkan guru mengikuti banyak seminar dan workshop abal-abal untuk memperoleh sertifikat aspal demi lulus sertifikasi dengan harapan memperoleh tunjangan profesi guru.</p>
<p>Desentralisasi yang semula diharapkan mendekatkan pemimpin lokal pada masyarakat pemilihnya untuk memberi pelayanan publik yang bermutu, justru menjadikan jabatan politis yang direbut sebagai kesempatan untuk melakukan pembocoran APBD. Ini sebagian disebabkan oleh biaya politik yang tinggi, sehingga setelah terpilih, para pejabat politik tersebut disibukkan oleh upaya-upaya koruptif. Oleh karena itu banyak Bupati dan Walikota, serta anggota DPR/D yang kemudian dipenjara dalam beberapa tahun terakhir ini. Para pejabat juga berpikir jangka pendek “lima-tahunan”, tidak mampu berpikir jangka panjang, sehingga yang terjadi adalah eksploitasi lingkungan dan penelantaran pendidikan sebagai investasi jangka panjang.</p>
<p>Di tingkat masyarakat, berkembang budaya rebutan dan srobotan : mengambil dulu, lain-lain urusan belakangan, bukan budaya saling memberi dan mendahulukan liyan. Hak pribadi lebih dikemukakan daripada kewajiban pada orang lain.  Masyarakat tidak mau antri, rebutan masuk maupun rebutan keluar. Bahkan saat keadaan darurat, rebutan keluar dari ruang yang terbakar telah menyebabkan tragedi : mati karena terinjak-injak, bukan karena terbakar.</p>
<p>Di tingkat global, kita masih menyaksikan perilaku adigang-adigung-adiguna kekuatan superpower  yang dengan gampangnya melakukan invasi ke Afghanistan, Iraq, lalu Libya. Ketiga Negara dengan mayoritas muslim itu, dengan kekayaan sejarah peradaban yang tiada tara, telah dihancurkan dalam waktu relatif pendek, seringkali dengan motif penguasaan sumberdaya minyak yang kapitalistik dan ekspolitatif, namun dibungkus dengan slogan demokrasi ! Penjajahan semacam ini sama saja dengan mencuri hak bangsa lain, sebuah korupsi global yang dilakukan melalui perang, ditambah dengan rekayasa keuangan di pasar-pasar finansial.  PBB –sebagai konsep menjiplak Hajj- boleh dikatakan mandul tak berguna untuk menghentikan eksploitasi sebagian bangsa terhadap bangsa yang lain.</p>
<p>Pada saat kita memperingati Iedul Qurban  di sini dengan menyembelih hewan kurban, jutaan saudara muslim kita di Mekkah sedang melakukan prosesi hajj sebagi simbol peneladanan Nabi Ibrahim as yang telah “mengorbankan” anaknya, Ismail. Hajj sekaligus juga melambangkan kehidupan sederajad di depan Allah Tuhan YME apapun warna kulit dan latar belakang ekonomi dan politik seseorang.  Yang membedakan derajad seseorang dari yang lain hanya derajad taqwanya. Kita berharap saudara-saudara muslim kita tersebut beroleh <em>hajjan mabruuran</em>.  Apa yang bisa kita petik sebagai hikmah dari peristiwa simbolik ini bagi kita yang hidup di zaman edan ini ? <strong></strong></p>
<p><strong>PENGORBANAN, KREATIVITAS, DAN KEEDANAN</strong></p>
<p>Banyak hal yang penting dalam kehidupan, termasuk konsep pengorbanan, kita merupakan hasil kreatifitas. Bahkan kemakmuran sebuah masyarakat lebih ditentukan oleh kreatifitasnya, bukan oleh kekayaan alamnya. Pengorbanan jelas merupakan konsep yang sulit dipahami tanpa kemampuan imajinasi dan berpikir abstrak ini.  Sulit memahami pengorbanan tanpa kreatifitas. Kreatifitas (dan kecerdasan majemuk) –lazim disebut <em>fathonah</em>- merupakan fitrah, karakter,  jati diri, kita sebagai manusia – disamping amanah (dipercaya), shiddiq (jujur), dan tabligh (peduli/komunikatif). Bahkan tujuan negara yang terpenting adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.</p>
<p>“Pengorbanan” juga bisa dipahami sebagai sindiran Allah swt Tuhan YME –pemilik alam semesta ini- pada manusia –yang adanya diadakan oleh Tuhan sendiri. Pengorbanan terbesar adalah pengorbanan ego atau keakuan. Itu adalah harga yang harus dibayar orang2 beriman untuk memperoleh “<em>al jannah</em>”, kehidupan surgawi [At taubah : 111]. Sementara tubuh dan raga akan kembali ke tanah, ego itulah yang ditagih untuk dikembalikan kepada pemilik-Nya. Godaan iman yang terbesar memang saat ego merasa mampu menjadi Tuhan. Penjajahan nafsu bendawi sudah dipatahkan melalui puasa, sedangkan penjajahan ego harus dikalahkan melalui pengorbanan (penyembelihan diri).</p>
<p>Ke-edan-an dengan demikian adalah lupa diri, kehilangan jati diri  sebagai makhluq yang amanah, jujur, cerdas, dan peduli,  kemudian mengarah pada penuhanan pada benda atau pada diri sendiri. Ke-edan-an dimulai dengan melupakan Allah swt sebagai al Khaaliq, kemudian berakibat pada melupakan diri sendiri [Al Hasyr :19].  Ini adalah sebuah kebodohan : tidak amanah, tidak jujur, tidak cerdas atau kreatif, dan tidak peduli. Pembodohan ini menggerus fithrah manusia sebagai mahkluq.</p>
<p>Dalam perspektif bermasyarakat, maka proses kreatif adalah upaya untuk melakukan evaluasi diri secara terus menerus, keberanian meninggalkan aspek-aspek negatif budaya sendiri, dan mengambil aspek-aspek positif budaya dunia –seperti Islam-, serta  mengambil keputusan atas postur budaya sendiri dengan penuh tanggungjawab. Di tingkat kreatifitas bangsa, masyarakat atau bangsa Eropa adalah contoh mutakhir yang dapat kita lihat. Kegagalan menyepakati sebuah Konstitusi Eropa yang efektif untuk menghadapi krisis keuangan saat ini  membawa “bangsa Eropa” mempertanyakan kembali jati dirinya.</p>
<p>Proses globalisasi yang tidak seimbang saat ini telah menyebabkan bangsa-bangsa dunia ketiga dalam posisi sulit dalam rangka mempertahankan jati dirinya. Karena globalisasi adalah sebuah proses penaklukan budaya, upaya mempertahankan jati diri ini adalah mekanisme melestarikan diri sebagai sebuah bangsa. Bangsa yang takluk secara budaya, disukai atau tidak, akan mengambil budaya penakluk tersebut tanpa melalui sebuah proses kreatif.</p>
<p>Pendidikan dapat dipahami sebagai upaya sadar untuk sembuh dari ke-edan-an, membangun jati diri sebagai kapasitas kreatif bangsa. Kreativitas sebuah bangsa merupakan aspek terpenting dari bangsa tersebut karena, pertama, bangsa adalah sebuah komunitas yang diimajinasikan. Perlu segera dikatakan, bahwa jati diri bangsa hanyalah atribut  yang dilekatkan secara konsensus oleh bangsa tersebut. Kedua, pendidikan adalah upaya mengantar peserta didik ke masa depan yang penuh gejolak, ketidakpastian, dan ketidakjelasan. Hanya bangsa kreatif yang akan mampu bertahan, dalam arti menemukan jati dirinya, dalam lingkungan tidak pasti, dan tidak jelas tersebut.</p>
<p>Peran kreatif manusia harus dipandang sebagai peran utamanya sebagai makhluk sejarah. Sejarah (<em>his-story</em>) adalah kisah upaya kreatif manusia dalam menjawab tantangan hidup. Pertanggungjawaban yang kita tagih pada setiap manusia mensyaratkan bahwa manusia kita beri kewenangan kreatif. Menjadi kreatif berarti mengambil keputusan untuk bertanggungjawab. Kewenangan kreatif ini dipijakkan pada kapasitas kreatifnya, yaitu : 1)Kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan, termasuk “pasar” yang dilayaninya, 2) Kesanggupan untuk melayani orang lain secara tidak diskriminatif, 3) Kejujuran untuk melakukan evaluasi diri secara terus menerus, 4) Kekayaan imajinasi untuk menyediakan alternatif pemecahan masalah, 5) Kecerdasan untuk menilai kelayakan rumusan pemecahan masalah tersebut, 6) Keberanian untuk memilih pemecahan masalah dengan penuh tanggungjawab, 7) Ketrampilan untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut secara etis, terutama dalam sebuah lingkungan yang majemuk. Ke-tujuh kewenangan kreatif ini merupakan “jalan pengorbanan”.</p>
<p><strong>KEPEMIMPINAN KREATIF</strong></p>
<p>Di samping kapasitas kreatif adalah pondasi kepemimpinan, ia lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional, moral, spiritualnya. Memimpin pada dasarnya adalah memilih pilihan-pilihan moral, dan memberi teladan memilih jati diri yang otentik, apapun pengorbanan yang harus ditempuh. Kecerdasan akal (IQ) yang bersifat analitik, vertikal-sikuensial, dan <em>crispy</em>, hanya menyusun kurang dari 20 persen kapasitas kreatif manusia. Pemujaan berlebihan pada kompetensi kognitif, sains, dan matematika selama ini, telah memberi gambaran yang keliru mengenai kompetensi yang perlu ditumbuhkembangkan bagi warga negara. Ditambah dengan proses pembelajaran yang tidak berpusat pada siswa, kapasitas kreatif siswa menjadi tidak berkembang secara optimal, bahkan justru dimatikan.</p>
<p>Ciri terpenting masa depan adalah ketidakpastian dan ketidakjelasannya. Jika pendidikan adalah pengantar ke masa depan, maka sekolah seharusnya merupakan sebuah <em>training ground</em> penyikapan secara sehat ketidakpastian dan ketidakjelasan tersebut. Pembelajaran kontekstual, memberi tantangan intelektual, emosional, moral cukup, merupakan lingkungan kondusif bagi penumbuhan kapasitas kreatif siswa. Ketidaktuntasan penyelesaian bertumpuk masalah kita dalam periode reformasi saat ini sebagian besar disebabkan sikap tidak kreatif para pemimpin formal birokrasi yang lamban dan <em>indecisive</em>.</p>
<p>Ciri pemimpin yang tidak bertanggungjawab  adalah kegemaran mengatakan “saya hanya pelaksana, bertindak mengikuti petunjuk pelaksanan dari atasan saya”, seolah-olah mereka hanyalah sebuah tombol yang ditekan secara “<em>remote control</em>” dari Jakarta. Oleh karena itu, guru sebagai pemandu siswa ke masa depan, perlu memiliki kompetensi <em>in-promptu</em> untuk mengembangkan pengalaman belajar bermakna secara inovatif dan luwes. Guru yang menggantungkan diri pada “juklak dan juknis rinci” dari “atas” sehingga tidak perlu melakukan interpretasi –dan oleh karenanya tidak bertanggungjawab- (apalagi kelulusan siswanya ditentukan oleh Ujian Nasional) bukanlah guru kompeten untuk  mengembangkan kapasitas kreatif anak didik.</p>
<p>Kapasitas kreatif juga ditunjukkan oleh kemampuan berpikir secara sintetik, lateral-paralel, dan <em>fuzzy.</em> Kapasitas kreatif yang rendah bangsa Indonesia sebagian ditunjukkan oleh statusnya sebagai konsumen sains dan teknologi. Perlu dicermati juga, bahwa kapasitas kreatif ini merupakan  penyusun modal buatan bangsa ini. Ketergantungan pada modal alamiah merupakan bukti langsung betapa kapasitas kreatif bangsa ini tidak berkembang, sehingga kemakmurannya diperoleh dengan cara melakukan eksploitasi kekayaan alamnya, bukan melalui proses nilai tambah yang berbasis pengetahuan,  teknologi, dan seni.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>IMPLIKASI PENDIDIKAN</strong></p>
<p>Mengembangkan kapasitas berkorban dan kepemimpinan warga dalam rangka penyembuhan dari ke-edan-an harus dipijakkan pada upaya menjadikan peserta didik sebagai pembelajar dengan memberi kesempatan pada warga muda ini untuk mengalami proses pembelajaran tuntas. Belajar adalah sebuah proses memaknai praktek/pengalaman, maka proses belajar adalah sebuah siklus “praktek-baca-tulis-bicara” (lihat gambar 1). Seseorang bisa disebut telah belajar bila mampu membuat narasi/kisah tentang “aku” dan alam serta peristiwa di sekitarnya sebagai sebuah pengalaman yang bermakna. Konsep diri “aku” ini penting untuk ditumbuhkan sebagai benih jati diri peserta didik. Ke”aku”an peserta didik bertumbuhkembang secara sehat melalui tiga siklus berikut ini :</p>
<p><strong>              Praktek </strong><strong>?</strong><strong> Baca                  Bukti   </strong><strong>?  Cari</strong><strong>                     Dipercaya </strong><strong>? Jujur</strong><strong>           </strong></p>
<p><strong>                 </strong><strong>­</strong><strong>                 </strong><strong>¯</strong><strong>         </strong><strong>Þ</strong><strong>           </strong><strong>­</strong><strong>             </strong><strong>¯</strong><strong>           </strong><strong>Þ</strong><strong>            </strong><strong>­</strong><strong>                  </strong><strong>¯</strong><strong></strong></p>
<p><strong>               Bicara </strong><strong>¬</strong><strong>  Tulis                   Sebar </strong><strong>¬</strong><strong> Tegak                  Peduli   </strong><strong>¬</strong><strong>   Kreatif</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>                      Gambar 1. Siklus Belajar, Siklus Kebenaran, dan Siklus Karakter</strong></p>
<p>Ketiga siklus di atas perlu dipahami sebagai sebuah kesatuan. Siklus belajar juga menunjukkan peran praktek sebagai pembentuk jati diri mu’min yang senang berbuat. Namun praktek mu’min dipijakkan pada ilmu yang diperoleh dari membaca dan menulis. ‘<em>Amalan shaalihan</em> merupakan buah dari siklus belajar, siklus kebenaran, dan siklus karakter.</p>
<p>Dalam perspektif kebenaran sebagai nilai universal, belajar adalah proses membuktikan, mencari, menegakkan, dan menyebarkan kebenaran.  Cinta kebenaran adalah jalan untuk mendekati Allah swt (<em>taqarub ila Allah</em>). Siklus kebenaran ini jika dibiasakan seiring dengan siklus belajar, selanjutnya akan membentuk karakter dipercaya, jujur, cerdas-kreatif, dan peduli pada peserta didik. Dengan demikian, mendidik dapat diartikan sebagai upaya menumbuhkan kesetiaan pada kebenaran, serta menginspirasikan keberanian berkarya bagi sesama sebagai bukti iman. Sejarah menunjukkan bahwa kesetiaan pada kebenaran harus dibayar mahal sebagai ujian beriman. Dengan kata lain, mendidik adalah menumbuhkembangkan kesediaan berkorban demi kebenaran.</p>
<p>Dalam praksis pendidikan saat ini, siklus belajar, siklus kebenaran dan siklus karakter ini tidak banyak terjadi, sebagian disebabkan karena sekolah bukan menjadi ruang ekspresi peserta didik yang longgar. Guru lebih mengharapkan jawaban yang benar, bukan jawaban yang jujur dan bebas dari murid-muridnya. Dengan target konten seberat saat ini, baik peserta didik maupun guru/dosen hanya tertarik dengan aspek-aspek kognitif –analitik peserta didik, sehingga tidak terjadi pembelajaran tuntas dan mendalam. Pembelajaran semakin bersifat informasional, namun miskin praktek. Dengan koleksi perpustakaan dan terbatasnya akses internet,  peserta didik dan guru tidak terdorong untuk membangun budaya membaca, menulis, dan berdiskusi, serta melakukan pembelajaran  <em>inquiry</em>, tapi lebih tertarik pada hasil proses yang telah disediakan. Proses individuasi pengetahuan tidak terjadi, sehingga peserta didik akan segera “melupakan” materi begitu semester berganti. Sistem evaluasi hampir selalu evaluasi tertulis, bahkan pilihan berganda, yang analitik dan reduksionistik. Pengembangan kemampuan-kemampuan sintetik, dan lintas-disiplin, bekerja dalam kelompok tidak berkembang, karena ini “mempersulit” peserta didik dan guru sendiri. Harus juga dikatakan, bahwa guru dan dosen tidak terbiasa untuk memberikan tantangan intelektual yang cukup, materi kuliah dan ujian yang tidak banyak perubahan dan pemutakhiran, sehingga berkembang budaya “baceman” di kalangan mahasiswa.</p>
<p>Sekolah dan kampus perlu mendisain ulang kurikulumnya menjadi tidak padat konten seperti sekarang  dengan jumlah mata sajian  yang terlalu banyak (lebih dari 6). Beban yang lebih peka karakter adalah 12 sks dengan jumlah mata sajian 3 atau 4 saja perminggu, sehingga pendalaman materi dan pengembangan karakter memperoleh porsi perhatian, dan alokasi sumberdaya yang lebih memadai. Model evaluasi hendaknya lebih multi-ranah, kualitatif, dan mendorong proses pembelajaran tuntas. Rezim pilihan-berganda dalam evaluasi belajar harus ditinggalkan karena mematikan pembudayaan membaca, menulis, dan berbicara.</p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p>Upaya sembuh dari ke-edan-an dapat dilakukan dengan membangun siklus belajar yang mengembangkan kapasitas kreatif dan karakter peserta didik sebagai warga negara dan pemimpin masa depan. Ini telah diteladankan oleh Nabiyullah Ibrahim dan Ismail. Pendidikan yang membangun kapasitas kreatif ini akan menentukan kemampuan warga negara untuk menemukan jati dirinya sendiri sebagai bagian dari proses konsensus bangsa ini sebagai sebuah komunitas yang diimajinasikan. Bangsa yang memiliki jati diri adalah bangsa yang warga negaranya memiliki jati diri, bukan warga negara yang edan, yang dijajah oleh kuasa bendawi ataupun kuasa ego.</p>
<p>Di tingkat global, warga dunia yang dilahirkan dari proses pembelajaran berkurban adalah warga yang sanggup mempelopori kehidupan lintas-negara yang menjunjung tinggi kemerdekaan dan mencegah penjajahan yang didorong oleh nafsu bendawi dan ego-etnosentrisme sebagai Tuhan-tuhan baru. Sebagaimana dikhutbahkan oleh Rasulullah pada saat Hajj al wada beliau, prosesi Hajj merupakan forum politik internasional di mana kerjasama antar-negara yang sederajad diupayakan dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi berbagai macam krisis kemanusiaan saat ini yang sesungguhnya merupakan akibat dari sikap menyekutukan Allah swt (<em>syirk</em>).  Akhirnya, proses penyembuhan dari keedanan ini merupakan sebuah proses pengorbanan melalui sebuah proses belajar yang menumbuhkan kesetiaan pada kebenaran, dan menginspirasikan keberanian berkarya bagi sesama sebagai bukti iman.</p>
<p><em> </em></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://danielrosyid.com/membangun-jati-diri-bangsa-sebuah-tantangan-kreatif.html" rel="bookmark" class="crp_title">Membangun Jati Diri Bangsa : Sebuah Tantangan Kreatif</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/dunia-setelah-sekolah.html" rel="bookmark" class="crp_title">Dunia Setelah Sekolah</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/kematian-kreativitas.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kematian Kreativitas</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/5-pendidikan-liberal-arts-membangun-kepekaan-waktu.html" rel="bookmark" class="crp_title">Transformasi Indonesia 2050 (5): Pendidikan Liberal Arts: Membangun Kepekaan Waktu</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/pendidikan-waktu-sebuah-strategi-budaya.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pendidikan Waktu: Sebuah Strategi Budaya</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://danielrosyid.com/pengorbanan-di-zaman-edan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Kepemimpinan Kreatif Sektor Bisnis dan Publik</title>
		<link>http://danielrosyid.com/kepemimpinan-kreatif-sektor-bisnis-dan-publik.html</link>
		<comments>http://danielrosyid.com/kepemimpinan-kreatif-sektor-bisnis-dan-publik.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 00:37:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Rosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielrosyid.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[ABAD 21: KRISIS kapitalisme, globalisasi, dan akhir kejayaan AS Indonesia sebagai emerging market menghadapi 3 masalah besar: 1. Desentralisasi gagal menghadirkan pemerintah daerah yang responsif dan inovatif 2. Demokrasi gagal membawa kesejahteraan dan keadilan, serta merekrut pemimpin yang amanah 3. Pendidikan gagal melahirkan warganegara dengan jiwa merdeka, sehat dan produktif Daniel Rosyid on Pendidikan karakter [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ABAD 21: KRISIS kapitalisme, globalisasi, dan akhir kejayaan AS<br />
Indonesia sebagai emerging market menghadapi 3 masalah besar:<br />
1. Desentralisasi gagal menghadirkan pemerintah daerah yang responsif dan inovatif<br />
2. Demokrasi gagal membawa kesejahteraan dan keadilan, serta merekrut pemimpin yang amanah<br />
3. Pendidikan gagal melahirkan warganegara dengan jiwa merdeka, sehat dan produktif</p>
<div id="__ss_9864676" style="width: 550px;">
<p><strong style="display: block; margin: 12px 0 4px;"><a title="Daniel Rosyid on Pendidikan karakter dan kewirausahaan" href="http://www.slideshare.net/akhmadguntar/daniel-rosyid-on-pendidikan-karakter-dan-kewirausahaan">Daniel Rosyid on Pendidikan karakter dan kewirausahaan</a></strong><object id="__sse9864676" width="550" height="434" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=pendidikankarakterdankewirausahaan-111024193557-phpapp01&amp;stripped_title=daniel-rosyid-on-pendidikan-karakter-dan-kewirausahaan&amp;userName=akhmadguntar" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed id="__sse9864676" width="550" height="434" type="application/x-shockwave-flash" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=pendidikankarakterdankewirausahaan-111024193557-phpapp01&amp;stripped_title=daniel-rosyid-on-pendidikan-karakter-dan-kewirausahaan&amp;userName=akhmadguntar" allowFullScreen="true" allowScriptAccess="always" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
</div>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://danielrosyid.com/menulis-atau-mati-saja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Menulis atau Mati Saja</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/pendidikan-budi-pekerti.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pendidikan Budi Pekerti</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/nurturing-creativity-in-21-c-universities.html" rel="bookmark" class="crp_title">Nurturing Creativity in 21-C Universities</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/its-rectorship-platform.html" rel="bookmark" class="crp_title">ITS Rectorship Platform</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/pengorbanan-di-zaman-edan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pengorbanan di Zaman Edan</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://danielrosyid.com/kepemimpinan-kreatif-sektor-bisnis-dan-publik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis atau Mati Saja</title>
		<link>http://danielrosyid.com/menulis-atau-mati-saja.html</link>
		<comments>http://danielrosyid.com/menulis-atau-mati-saja.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 00:30:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Rosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielrosyid.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Kemajuan sebuah bangsa TIDAK ditentukan oleh modal alam-nya Tapi ditentukan oleh MODAL BUATAN-nya Modal buatan ini kebanyakan adalah modal INTANGIBLES Perang tercanggih adalah perang GAGASAN Daniel rosyid on menulis atau mati Related Posts:Pendidikan Budi PekertiMembangun Kepemimpinan Kreatif Sektor Bisnis dan PublikNurturing Creativity in 21-C UniversitiesITS Rectorship PlatformTransformasi Indonesia 2050 (3): Pengertian dari Waktu dan Mengapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemajuan sebuah bangsa TIDAK ditentukan oleh modal alam-nya<br />
Tapi ditentukan oleh MODAL BUATAN-nya<br />
Modal buatan ini kebanyakan adalah modal INTANGIBLES<br />
Perang tercanggih adalah perang GAGASAN</p>
<div id="__ss_9864569" style="width: 550px;">
<p><strong style="display: block; margin: 12px 0 4px;"><a title="Daniel rosyid on menulis atau mati" href="http://www.slideshare.net/akhmadguntar/daniel-rosyid-on-menulis-atau-mati">Daniel rosyid on menulis atau mati</a></strong><object id="__sse9864569" width="550" height="434" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=danielrosyid-menulisataumati-111024192136-phpapp01&amp;stripped_title=daniel-rosyid-on-menulis-atau-mati&amp;userName=akhmadguntar" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed id="__sse9864569" width="550" height="434" type="application/x-shockwave-flash" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=danielrosyid-menulisataumati-111024192136-phpapp01&amp;stripped_title=daniel-rosyid-on-menulis-atau-mati&amp;userName=akhmadguntar" allowFullScreen="true" allowScriptAccess="always" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
</div>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://danielrosyid.com/pendidikan-budi-pekerti.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pendidikan Budi Pekerti</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/kepemimpinan-kreatif-sektor-bisnis-dan-publik.html" rel="bookmark" class="crp_title">Membangun Kepemimpinan Kreatif Sektor Bisnis dan Publik</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/nurturing-creativity-in-21-c-universities.html" rel="bookmark" class="crp_title">Nurturing Creativity in 21-C Universities</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/its-rectorship-platform.html" rel="bookmark" class="crp_title">ITS Rectorship Platform</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/3-pengertian-dari-waktu-dan-mengapa-ia-begitu-penting.html" rel="bookmark" class="crp_title">Transformasi Indonesia 2050 (3): Pengertian dari Waktu dan Mengapa Ia Begitu Penting</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://danielrosyid.com/menulis-atau-mati-saja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Budi Pekerti</title>
		<link>http://danielrosyid.com/pendidikan-budi-pekerti.html</link>
		<comments>http://danielrosyid.com/pendidikan-budi-pekerti.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 00:22:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Daniel Rosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[budi pekerti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://danielrosyid.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Kasus SDN2 Gadel adalah tanda-tanda krisis budi pekerti  Gayus dan Nazarudin pandai atau bodoh? Tapi, Gayus dan Nazarudin lulus Ujian Nasional … Budi = kesadaran (nilai),Pekerti = sikap, perilaku Daniel rosyid on Pendidikan Budi Pekerti Related Posts:Menulis atau Mati SajaMembangun Kepemimpinan Kreatif Sektor Bisnis dan PublikNurturing Creativity in 21-C UniversitiesITS Rectorship PlatformSaya Akan Bayar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kasus SDN2 Gadel adalah tanda-tanda krisis budi pekerti  </p>
<p>Gayus dan Nazarudin pandai atau bodoh? Tapi, Gayus dan Nazarudin lulus Ujian Nasional … </p>
<p>Budi = kesadaran (nilai),Pekerti = sikap, perilaku</p>
<div id="__ss_9864563" style="width: 550px;"><strong style="display: block; margin: 12px 0 4px;"><a title="Daniel rosyid  on Pendidikan Budi Pekerti" href="http://www.slideshare.net/akhmadguntar/daniel-rosyid-on-pendidikan-budi-pekerti">Daniel rosyid on Pendidikan Budi Pekerti</a></strong><object id="__sse9864563" width="550" height="434" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=danielrosyid-pendidikanbudipekerti-111024192101-phpapp02&amp;stripped_title=daniel-rosyid-on-pendidikan-budi-pekerti&amp;userName=akhmadguntar" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed id="__sse9864563" width="550" height="434" type="application/x-shockwave-flash" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=danielrosyid-pendidikanbudipekerti-111024192101-phpapp02&amp;stripped_title=daniel-rosyid-on-pendidikan-budi-pekerti&amp;userName=akhmadguntar" allowFullScreen="true" allowScriptAccess="always" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></div>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://danielrosyid.com/menulis-atau-mati-saja.html" rel="bookmark" class="crp_title">Menulis atau Mati Saja</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/kepemimpinan-kreatif-sektor-bisnis-dan-publik.html" rel="bookmark" class="crp_title">Membangun Kepemimpinan Kreatif Sektor Bisnis dan Publik</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/nurturing-creativity-in-21-c-universities.html" rel="bookmark" class="crp_title">Nurturing Creativity in 21-C Universities</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/its-rectorship-platform.html" rel="bookmark" class="crp_title">ITS Rectorship Platform</a></li><li><a href="http://danielrosyid.com/saya-akan-bayar-hutang-ui-pada-indonesia.html" rel="bookmark" class="crp_title">Saya Akan Bayar Hutang UI Pada Indonesia</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://danielrosyid.com/pendidikan-budi-pekerti.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

