Jembatan Selat Sunda : Blunder Konsep dan Teknomik

header-jembatan-selat-sunda

PENDAHULUAN

Ada tiga alasan mendasar mengapa JSS adalah sebuah mega-mubazir, blunder teknologi, dan ekonomi regional untuk “menghubungkan” Jawa-Sumatra. Alasan pertama, secara paradigmatik, JSS adalah turunan paradigma pulau besar yang memandang laut dan selat sebagai pemisah, atau paling tidak semacam sungai besar.  Manusia pulau besar cenderung memaksakan kudanya (untuk zaman sekarang adalah mobilnya) untuk menyeberang. Paradigma kepulauan memandang laut dan selat justru sebagai penghubung (jembatan) alamiah, sedangkan kapal adalah alat angkut yang cocok untuk memanfaatkan daya dukung air laut tersebut bagi muatan yang diangkut kapal-kapal tersebut..

Alasan kedua, secara topologi, jembatan hanya solusi jarak terpendek bagi concave landmass domain yang lahir dari cara berpikir pulau besar. Untuk negara kepulauan, dengan ruang topologi yang jauh berbeda, satu jembatan  justru membentuk artificial concave landmass domain yang problematik karena justru menurunkan connectedness-nya.  Artinya, kehadiran jembatan justru menuntut adanya jembatan tambahan agar connectedness kedua pulau dapat dipertahankan.

Solusinya adalah paradigma kepulauan yang membuka relaxed design domain tanpa mengubah ruang topologi landmass yang sudah ada. Solusi untuk relaxed design domain itu adalah kapal (penyeberangan/ferry), yang teknologi generasi terkininya sudah tersedia dan well-proven. Air laut bersama sistem ferry canggih ini membentuk jembatan alamiah dalam jumlah tak-terbatas sehingga mempertahankan connectedness kedua pulau.

ANALISIS TEKNOMIK

Alasan ketiga adalah alasan-alasan teknomik berikut. Satu Jembatan yang menghubungkan dua pulau, karena concavity permanen yang terbentuk oleh jembatan ini, hanya akan menguntungkan kawasan kaki-kaki jembatan saja. Para spekulan tanah dan tuan tanah yang menguasai kawasan kaki jembatan akan paling diuntungkan.  Solusi ferry  (maju) boleh dikatakan membentuk concavity yang lentur dan dinamik. Artinya, sistem layanan penyeberangan (ferry ro-ro dan demaga) dan pelayaran yang canggih dapat menghubungkan Jawa dan Sumatra di banyak lintasan sehingga Sumatra secara menyeluruh akan memperoleh manfaat yang jauh lebih besar daripada JSS yang akan menguntungkan Lampung dan Banten saja. Kondisi jaringan Trans Sumatra saat ini yang buruk juga akan mengurangi manfaat JSS bagi integrasi pasar di Pulau Sumatra.

Memaksakan truck, atau mobil untuk melintasi Selat Sunda dapat tetap dilakukan dengan jauh lebih efisien dengan kapal ferry yang lebih baik dari layanan ferry yang ada saat ini. Air laut Selat Sunda telah membuat kontur sea-bed Selat Sunda yang kompleks penuh patahan dan palung menjadi tidak relevan, bukan bagi truck atau mobil, tapi bagi kapal ferry. Bagi penumpang, kapal ferry ini adalah jembatan sekaligus mobil/trucknya. Air laut yang tersedia tanpa dibeli, karena sunnatullah mampu mendukung beban muatan yang diangkut truck/mobil, dsb  berapapun banyaknya dengan menggunakan kapal-kapal dengan desain dan besar armada yang tepat. Air laut bersama sistem ferry maju yang tepat akan menjadi jembatan penghubung yang very-cost effective . dengan investasi  10% JSS  saja dan dapat disediakan dalam waktu 3-4 tahun saja,

JSS adalah highly constrained solution karena JSS merupakan kelanjutan kebijakan transportasi yang keliru saat ini yang berat moda-jalan (mobil, sepeda motor, truck, dan bis) individual/privat  yang tidak efisien, polutif, dan meningkatkan ketergantungan pada BBM. Situasi uni-modality saat ini sudah sangat kritis. Indonesia akan semakin terjebak dalam single-mode trap berkepanjangan yang hanya menguntungkan industri mobil (yang masih diimpor). JSS justru akan memberi insentif bagi ketergantungan Indonesia pada moda transport yang buruk ini. Lebih berbahaya lagi adalah bahwa JSS merupakan highly constrained solution dan pengalih perhatian publik oleh Pemerintah yang telah gagal membangun pemerintahan yang efektif di laut –sebagaimana amanat konstitusi yang sudah diamandemen- yang justru merupakan kunci penyelesaian banyak masalah di Indonesia saat ini sebagai negara kepulauan yang berciri Nusantara.

PERBANDINGAN EMPIRIK  BEBERAPA MEGA-PROYEK

JSS sebagai teknologi yang melawan kondisi alamiah Selat Sunda akan harus dibayar dengan mahal sekali yang kemungkinan besar tidak akan pernah terpikul oleh kapasitas fiskal nasional kita dalam waktu 10 tahun lebih ke depan. Perkiraan biaya pembangunan JSS yang diumumkan saat ini adalah Rp. 120T. Berdasarkan pengalaman Jembatan Suramadu dengan panjang 5km saja dan bentang terpanjang hanya sekitar  500m, biayanya membengkak menjadi Rp. 5T dan waktu pembangunannya molor 1 tahun lebih dengan soft loan dari Cina untuk bentang tengahnya. Dari pengalaman Jembatan Suramadu ini, biaya JSS yang 30km dapat mencapai Rp. 180T atau lebih karena harus lebih lebar (6 lajur ), lebih tebal (untuk mengakomodasi track kereta api dan bentang yang jauh lebih panjang), dan pylon (menara) penyangganya lebih tinggi, dan lebih dalam di lingkungan yang secara tektonik dan vulkanik amat aktif. Hubungan antara panjang (bentang) jembatan dan harga pembangunanya jelas bukan linier sederhana, namun paling tidak kuadratik, atau bahkan kubik.

Segmen JSS yang terpanjang akan menuntut bentang suspension bridge yang terlalu panjang (sekitar 3500m) bagi teknologi jembatan yang kita kenal secara global saat ini. Jembatan terpanjang saat ini adalah Jembatan Akashi-Kaikyo di Jepang yang menghubungkan Kobe di Pulau Honshu dan pulau Awaji. Panjang bentangnya 1991m, dan panjang total “hanya” 3911m, clearance 66m, dibangun selama 12 tahun (1986-1998). Sekarang jembatan ini menampung traffic 23000 mobil/hari, dengan tariff toll mencapai Y 2300 (sekitar Rp. 250.000). Jembatan ini tidak mengakomodasi kereta api.

Sementara itu, desain JSS harus mengakomodasi syarat-syarat Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI 1) sebagai sebuah kesepakatan internasional (United Nation Convention on the Law of the Sea -UNCLOS) yang telah kita ratifikasi. Karena kontur sea-bed yang rumit dengan kedalaman yang bervariasi dari -40m hingga -80m lebih, peluang terjadinya ground acceleration hingga 0,3g akibat gempa tektonik, serta ancaman erupsi vulkanik Krakatau, maka rancangbangun dan pembangunan JSS akan amat mahal bagi kemampuan  fiskal nasional RI hingga 10-20 tahun ke depan. Sistem keuangan global yang belum stabil, serta harga baja dan beton yang dapat dipastikan akan terus naik, akan meningkatkan kerentanan pembiayaan JSS dari ancaman financial shocks selama masa konstruksinya yang diperkirakan selama 10 tahun. Kita boleh berharap, masa konstruksi JSS akan molor lebih lama dari yang direncanakan.

Sementara itu, Jembatan Messina yang menghubungkan mainland Italia (Calabria) dengan Messina di pulau Sicilia dibatalkan pembangunannya pada tahun 2006  setelah terjadi debat dan kontroversi bertahun-tahun antara Pemerintah, parlemen, dan masyarakat mainland Italia maupun kelompok-kelompok nasionalis Sicilia.  Bentang tengah jembatan ini akan menjadi yang terpanjang nomor dua di dunia (setelah JSS), yaitu sepanjang 3300m, clearance 65m, dan tinggi pylon mencapai 383m ! Biaya yang direncanakan adalah sebesar Euro 6,1M, atau sekitar Rp. 70T.  Pemerintah Italia (sebelum PM Berlusconni) membatalkan rencana ini karena memandang perbaikan prasarana jalan di P. Sisilia sendiri jauh lebih bermanfaat bagi ekonomi regional Italia sementara ada kekhawatiran yang luas bahwa dana Triliunan Lira akan jatuh ke tangan organisasi kriminal Cosa Nostra dan Ndranghetta.

Banyak proyek-proyek besar di negara-negara maju dan kaya (dengan disiplin waktu dan kapasitas fiskal yang jauh lebih baik dari Indonesia) selalu berakhir dengan cost-over run dan keterlambatan. 2 contoh proyek mercun suar ini adalah the Sydney Opera House dan the Millenium Dome di London.  Sementara itu, terowongan Eropa (Eurotunnel) yang menghubungkan Dover-Calais di bawah English Channel berpanjang 50 km diselesaikan dalam waktu 8 tahun (1986-1994), membengkak biayanya hampir 2 kali lipat (dari perkiraan awal GBP 2600M menjadi GBP 4650M, senilai Rp. 500T!), dan manfaat ekonomi regionalnya amat terbatas, terutama bagi Inggris. Bahkan dilaporkan kondisi Inggris akan jauh lebih baik saat ini jika terowongan ini tidak pernah dibangun sama sekali. Investor-Operator terowongan yang bekerja dengan pola BOOT (Build-Own-Operate-Transfer) mengalami kerugian dan hampir bangkrut karena proyeksi traffic tidak seperti yang diramalkan, dan beberapa kali penutupan terowongan akibat kebakaran di dalam terowongan. Dampak lingkungan terowongan ini juga terbukti negatif.

PERBANDINGAN SOLUSI (Benefit/Cost)

Di tingkat teknomik, JSS jelas-jelas inferiror dibanding sistem ferry maju. Dari perbandingan di atas terlihat bahwa solusi Ferry maju memberikan Benefit/cost ratio yang paling baik, terutama menghindarkan Indonesia dari jebakan uni-modaliity yang tidak efisien dan polutif, serta privat sehingga secara umum tidak sustainable. Dapat dilihat bahwa paradigma kepulauan membuka sebuah relaxed design solution yang lebih cost-effective berupa armada dan dermaga  ferry maju dengan beban pembiayaan yang lebih ringan dan adil bagi mayoritas daerah/kawasan di Indonesia. Secara topologi, solusi sistem ferry membentuk ruang Jawa-Sumatra yang  lebih compact dan well-connected.  Sebagai perbandingan adalah sistem ferry Yunani untuk kawasan Agean Sea yang sangat luar biasa untuk ekonomi dan pariwisata Yunani. Pariwisata Selat Sunda jelas akan terbangun baik justru dengan sistem ferry maju, bukan dengan JSS.

Tahapan pemilihan konsep merupakan tahapan amat penting dan berdampak jangka panjang, namun dengan informasi yang bersifat kualitatif dan terbatas. Dari analisis kualitatif,dan  konseptual di atas, dapat disajikan sebuah tabel perbandingan atas berbagai solusi untuk menghubungkan Jawa-Sumatra sebagai berikut :

Tabel 1. Perbandingan 3 Opsi Solusi Untuk Selat Sunda

KRITERIA JEMBATAN TEROWONGAN FERRY MAJU

Paradigma

Pulau Besar Pulau Besar Kepulauan

Topologi, connectedness

Less connected Less connected Well- connected
Biaya Pembangunan Rp. 180 T Rp. 360T Rp. 20 T
Biaya M/O Amat besar besar Kecil
Lama Pembangunan 10 tahun 15 tahun 3 tahun

Potensi cost over-run, rugi  dan molor

Besar besar Kecil
Dampak Spasial, Geo-ekonomi-politik Serius, mengganggu ALKI 1 Cukup serius Tidak ada
Ketidakpastian beban perancangan Tinggi, gempa 0,3g,  dan erupsi vulkanik Cukup tinggi,  gerakan lempeng tektonik SS Rendah
Teknologi Not-well proven Well-proven Very-well proven
Dampak Lingkungan Besar, against nature Menengah Rendah, friendly
Resiko financial shocks Besar Besar Kecil
Kerentanan terhadap serangan teroris dan kerusuhan sosial rentan (lame duck) Amat rentan Tidak rentan
Keandalan Sistranas Single-mode trap Single-mode trap Multi-modality

Dampak ekonomi regional  bagi Sumatra

terbatas, terbatas terbatas
Pengembangan transportasi multi-moda Merugikan,

permanent concavity

Merugikan Menguntungkan, dynamic concavity

Fairness, public spending

Unfair, Unfair Fair

PENUTUP DAN KESIMPULAN

Solusi JSS dengan demikian merupakan solusi yang tidak layak. Anggaran yang tersedia dari kapasitas fiskal yang terbatas dapat dipakai untuk meningkatkan cakupan dan mutu Trans-Sumatra sehingga integrasi pasar domestik di Sumatra dapat diwujudkan dengan biaya yang jauh lebih murah, terutama yang berbasis rel (kereta api), bukan toll road, hingga ke pelabuhan-pelabuhan. Pengembangan infrastruktur serupa bagi pantura Pulau Jawa akan memberi dampak ekonomi regional yang amat signifikan.

Kebijakan yang dihasilkan dari cara pandang benua/pulau besar yang tidak bersahabat dengan taqdir alamiah kita sebagai Negara kepulauan akan berpotensi selalu memaksakan solusi moda-tunggal jembatan untuk Indonesia yang kepulauan ini. Yang paling diuntungkan dengan solusi jembatan adalah para spekulan dan tuan tanah yang menguasai lahan di kawasan kaki-kaki jembatan. Jika cara pandang ini dipertahankan terus, kita boleh khawatir bahwa agenda untuk mempromosikan infrastruktur multi-moda dengan membangun pemerintahan di laut yang efektif akan semakin terbelakangkan. Dengan kondisi uni-modality yang semakin kritis saat ini, dan sumberdaya kepulauan yang terbengkalai, kita tidak saja tidak memiliki masa depan,  keutuhan negara-bangsa ini juga dipertaruhkan.

Be Sociable, Share!

19 Tanggapan »

  1. avatar suhar Says:

    Pak Daniel, mohon maaf bila sebelumnya tidak minta ijin, untuk menyebarluaskan tulisan Bapak mengenai JSS. Saya pikir perlu banyak orang tau pemikiran Bapak tentang JSS, itulah yang mendasari saya meng-copy-Paste tulisan Bapak.

    Mohon maaf dan terima kasih

  2. avatar hozairi Says:

    Saya juga berfikir sama dengan bapak sebagai insan pendidikan. saya yakin JSS itu lebih banyak mudhoratnya ketimbang manfaatnya terutama bagi alam, source bangsa kita adalah alam yang masih alami. Ayo berfikir lebih dalam lagi harus memandang secara filsafat dan hakekat. supaya Indonesia mampu mencapai KESEIMBANGAN

  3. avatar armadi putra Says:

    maaf sebelum mungkin saya belum minta ijin untuk menyebarluaskan tapi saya ijin copypaste agar orang orang diluar juga tau kenyataannya pak :)

  4. avatar Eko Sasmito Hadi Says:

    Ass, wr wb,
    Saya sangat setuju dengan tulisan pak daniel. Pertama, Negara kita merupakan negara maritim tetapi setiap kebijakan yang diambil tidak pernah berdasarkan mainset dari maritim. Saya sangat setuju bila kapal merupakan penyambung pulau pulau nusantara dan kapal merupakan alat merangkai untaian zamrut dikhatulistiwa. Ini yang meyebabkan wilayah Indonesia bagian timur selalu terbelakang, dan akhirnya wajarkan jika salah satu wilayah di Indonesia bagian timur minta merdeka. selama dasar pemikiran bukan berbasis maritim atau kepulauan dan menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial yang begitu terasa, mungkin timbul pertanyaan sampai kapan NKRI mempunyai wilayah sampai papua.
    Kedua, dasar pemikiran kebanyakan orang saat ini adalah jawa centris, semua terpusat dijawa, semua fasilitas ada di pulau jawa, klo milih pekerjaan selalu di jawa. Dasar pemikiran ini yang salah besar. Di pulau Miangas juga punya bendera negara seperti di pulau jawa. Seharusnya konsentrasi pembangunan harus difokuskan ke Indonesia Timur, tentu saja dengan prinsip pembangunan berbasis maritim dan sesuai dengan kebijakan lokal.
    Terus terang saya lebih suka kerja di daerah kawasan indonesia timur, dengan begitu saya bisa melihat dan merasakan luasnya negara kita, betapa kayanya negara kita baik darat maupun laut. Akan tetapi jika saya lihat fasilitas yang ada di Indonesia Timur, sangat terbelakang dan tertinggal, mungkin kata kata saya yang tepat adalah wajar jika mereka minta merdeka, mereka punya hak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Artinya, Kebijakan dan prioritas pembangunan berbasis maritim saat ini sangat perlu dibutuhkan untuk menjamin kedaulatan NKRI.

  5. avatar Denyguragura Says:

    Saya sangat sepakat dengan pendapat yang ini…
    daripada JSS bukankah lebih baik infrastruktur kemaritiman lebih ditingkatkan lagi,,
    saya minta ijin copy paste tulisan bapak tentang JSS ini untuk disebarkan pak..
    salam!!

  6. avatar E. Wijaya Says:

    Assalamualaikum,
    Salam kenal sebelumnya pak Rosyid, bagaimana dengan Jepang pak, dimana kita tau jepang pun adalah negara kepulauan dan kondisi negara yg cukup rawan gempa. Seikan tunnel adalah salah satu contoh keberhasilan jepang dalam hal connecting between lands.

  7. avatar hakim butar butar Says:

    setuju prof, proyek JSS hanya sebagai ladang untuk menghamburkan anggaran di negara ini,,,pemimpin kita hanya memikirkan “bagaimana ya caranya menghabiskan anggaran ini?”, mereka gak lihat masyarakat yang udah banyak menangis dan meringis karena kemiskinan…

    prof permisi nge-copy-paste artikel ni…

  8. avatar abenk Says:

    nice…
    salam kenal pak……..

  9. avatar Bambang Eko Afiatno Says:

    Selain itu, yg berbahaya dr aspek ekonomi adalah backwash effect, yakni dg terbangunnya jembatan Selat Sunda, maka ekonomi Sumatera akan kesedot Jawa. Solusinya adalah biaya pembangunan jembatan tsb digunakan pembangunan infrastruktur (jalan, pelabuhan, dsb) di Sumatera akan ekonomi lokal menjadi kuat & tumbuh dg optimal. Jadi, dg JSS bukan malah semakin baik ekonomi Sumatera, malah semakin timpang

  10. avatar tom Says:

    Transportasi yg lancar itu jelas sangat diperlukan, nah untuk JSS boleh2 aja itu termasuk pembangunan nasional tapi awasi pelaksanaannya itu yg penting.

  11. avatar Cemananya Says:

    Halo Pak,

    Tulisan yg menarik, tapi banyak istilah teknis.
    Tapi pak, perusahaan swasta yg ikut disitu kan punya Tomy Winata, kayaknya presiden kita yg jendral aja sudah terlalu banyak hutang budi sehingga tak kuasa menolak konsep JSS dari Tomy Winata.

    Bahkan Menkeu Agus Marto, sangat segan untuk mengeluarkan surat jaminan dari pemerintah….. Menurut beliau banyak yang belum jelas baik secara defenisi maupun administratif.

    Lagi-lagi negara kalah melawan korporasi. Setelah kalah melawan Bakrie-lapindo, sekarang kalah melawan Tomy Winata-artha Graha Group.

    Pelaksanaan punsengaja dibuat harus dimulai tahun 2014, sebelum SBY lengser, karena presiden lain belum tentu bersedia melakukan proyek ini.

  12. avatar Dimas Gustamas Says:

    Gengsi negara ini terlalu tinggi, dan mayoritas rakyat kita bangga jika punya jembatan indah nan megah.. tapi gak efektif..

  13. avatar indra kusuma Says:

    selamat siang, setelah membaca tulisan anda saya mencoba mencari panjang jembatan antar pulau KeyWest, Florida amerika serikat, kalau tidak salah yg terpanjang adalah hampir 7 mil, bukankah ini lebih panjang dibandingkan rentang terpanjang JSS ?

    terima kasih

  14. avatar Jembatan Selat Sunda: Kebutuhan, Ego, atau Maksud Lainnya? « Spirit and Courage Says:
  15. avatar Mega Lia Istiyanti Says:
  16. avatar Rudy Purwondho Says:

    Asslmkm ww P Daniel, Terima kasih telah memberi tahu alamat web site nya sehingga saya dapat menambah wawasan soal topik-2 yang sangat krusial. Wass, RP.

  17. avatar nug Says:

    pagi pak, salam kenal
    nice post. memang betul pak. secara SDM Indonesia belum mampu membangun JSS secara optimal. dari segi geografis juga kurang mendukung karena berada di sabuk api. beda dengan suramadu yang tanahnya cenderung stabil dan jaraknya yang tidak terlalu jauh. belum lagi ekonomi kita masih belum stabil. masih terlalu cepat, benahi dulu SDM kita juga ekonominya…

  18. avatar Budhisatwati Says:

    Saya sangat setuju dengan tulisan Pak Daniel. Indonesa sebagai negara kepulauan lebih tepat membangun banyak kapal kecil dan pelabuhan kecil di beberapa pulau yang berjajar dari sabang sampai Merauke. Dengan begitu hubungan antar pulau akan lebih lancar dan lapangan pekerjaan terbuka luas bagi penduduk dengan adanya kegiatan di pelabuhan bersamaan hilir mudiknya kapal2.
    Janganlah kita menegasi sebagai negri kepulauan dengan membangun JSS yang sangat megah dan super mahal. Membangun pelabuhan dan kapal saya pikir ini lebih rasionel dan lebih banyak manfaat bagi banyak orang.

  19. avatar azhar Says:

    Saya mempunyai pandangan yg berbeda dg penulis artikel ini, menurut sy pembangunan JSS sangat diperlukan mengingat itu akan mempersatukan kedua pulau besar terpenting di lndonesia. Kebijakan tsb akan membangun multiflyer effect pertumbuhan ekonomi di kedua pulau tsb, hitung saja berapa potensi ekonomi di 8 provinsi di Sumatera dan 5 provinsi di pulau jawa. Selama ini pun semua kita tau betapa banyak hasil bumi dari sumatera yg terbuang sia sia tak sampai ke pasar di Jakarta krn bergantung kpd angkutan truck yg bergantung pd angkuta ferry. Berbeda dg jembatan suramadu yg cuma menghubungi jawa timur dan 3 kabupaten di pulau madura (artinya sangat tak berbanding ). JSS juga akan mendukung penyebaran penduduk yg lebih merata di kedua pulau tersebut, krn secara psikologis hubungan menjadi lebih lancar dan dpt dihubungi kapan saja. Satu lagi hal yg perlu dipertimbangkan adalah bhw Malaysia sdh pernah menawarkan pembangunan jembatan selat Malaka yg menghubungi pulau Sumatera dan semenanjung Malaya, jika itu terjadi maka itu akan segera mengarahkan potensi ekonomi pulau sumatera yg luar biasa itu ke negara tetangga kita yg srmakin hari makin menncengkram kuku dominasinya di negeri tercinta ini, wallahu alam bissawab

RSS feed untuk tanggapan dari tulisan yang satu ini. TrackBack URL

Silahkan beri tanggapan & berbagi pemikiran di sini