ITS Sebagai Universitas Maritim

indonesia-maritim

Arsitektur pendidikan tinggi Indonesia sebagaimana diwariskan penjajah Belanda pasca Kemerdekaan memang didisain untuk kepentingan penjajahan. Fakultas ekonomi di Jakarta, teknik di Bandung, pertanian di Bogor, Hukum di Jogya, dan kedokteran di Surabaya, memang diorientasikan bagi sebuah negara jajahan. Pendidikan tinggi dengan kajian-kajian seperti itu diperuntukkan bagi pelajar Indonesia agar tetap berpikir benua (daratan). Kajian-kajian tentang kepulauan dan kemaritiman sengaja tidak dikembangkan.

Akibat pola berpikir benua (pulau besar) ini, pembangunan kelautan dan kemaritiman Indonesia terbelakang, justru tidak sesuai dengan takdir alamiah bangsa ini sebagai negara kepulauan. Contoh mutakhir cara berpikir pulau besar ini adalah Jembatan Suramadu, dan rencana membangun Jembatan Selat Sunda. Cara berpikir ini melihat laut (dan selat) sebagai pemisah. Tentu selat adalah pemisah bagi mobil dan kuda, tapi tidak bagi kapal. Bahkan air laut itu membuat dasar selat yang rumit  dengan palung dan patahan tektonik menjadi rata dan tidak relevan bagi kapal. Bagi kapal, air laut adalah jembatan tak-terbatas.

Hanya dengan menjadi negara maritim, negara kepulauan Indonesia ini bisa berjaya sebegaimana telah didemonstrasikan oleh Sriwijaya dan Majapahit. Penjajahan Belanda dimulai saat VOC mulai menghancurkan kemampuan maritim bekas kerajaan Majapahit,  mendesak kerajaan-kerajaan Demak, Mataram, Banten dan Makasar mundur ke pedalaman  dan menjauhi pesisir, untuk kemudian menancapkan pengaruh di samudra untuk menguasai perdagangan antar pulau di Nusantara.  Kemudian dengan bersekongkol dengan raja-raja yang hedonistik, korup dan feodal, penjajahan Belanda ini bisa sukses berlangsung hampir 350 tahun lamanya !

Pada saat kemerdekaan 17 Agustus 1945, infrastruktur maritim nasional itu tidak pernah dibangun kembali oleh Pemerintah RI. Bahkan kapal-kapal Belanda ikut ditarik ke wilayah-wilayah sekutu di Asia, meninggalkan di bekas Hindia Belanda itu tank-tank dan kemampuan tempur berbasis darat saja.  Hingga saat ini, pemerintah Indonesia masih gagal membangun pemerintahan di laut dan pulau-pulau terdepan yang efektif. Berbagai kegiatan melanggar hukum terjadi, sejak pencurian ikan oleh kapal-kapal asing, perampokan di laut, hingga penyelundupan kayu, minyak dan manusia, pembuangan sampah beracun di laut, dan penambangan pasir secara liar. Bahkan jika terjadi musibah di laut, kapasitas Search and Rescue (SAR) kita sedemikian terbatas sehingga keselamatan di perairan Nusantara termasuk paling buruk di dunia.

Pola pikir pesisir dan maritim adalah pola pikir dinamik, dan demokratis, berbeda dengan pola pikir pegunungan yang statik, dan hirarkis-feodal. Jika kita berada di dalam sebuah kapal, aliran arus alut dan alunan gelombang akan mengubah koordinat kapal ini setiap waktu. Karena laut adalah habitat yang tidak bersahabat dengan manusia, manusia menggantungkan diri pada sains dan teknologi agar bisa bertahan hidup di laut.

Bung Karno terlambat menyadari kesalahan ini karena terlanjur jatuh, dan kemudian Gus Dur telah menyadarinya dengan membentuk Departemen Eksplorasi Laut yang kemudian menjadi Departemen (sekarang Kementrian) Kelautan dan Perikanan. Tentu saja membangun kepulauan Nusantara tidak cukup hanya memandang persoalan ini sebagai sebuah sektor perikanan saja, karena laut adalah sebuah matra lintas-sektor. Yang diperlukan adalah Pemerintahan di laut untuk semua sektor (dari pendidikan, perhubungan, ekonomi, perikanan/pertanian hingga keamanan). Pemerintah RI saat ini bukanlah Pemerintah (wilayah) RI yang sebenarnya, karena hanya hadir di pulau-pulau (besar) wilayah Indonesia, sementara di laut dan di pulau-pulau kecil, Pemerintah tidak hadir secara efektif.

Prospek bisnis dan industri berbasis sumberdaya kepulauan amat besar, membentang sejak industri pelayaran dan industri galangan kapal dan fabrikasi bangunan-bangunan laut, perikanan tangkap, marikultur dan offshore fish-farming, bioteknologi (farmasi, kosmetika dan pangan) laut, industri garam, air laut dalam, penambangan mineral eksotik (seperti nodul Mn dasar laut), industri energi laut (Ocean Thermal Energy Conversion –OTEC), wisata bahari dan reklamasi pantai. Saat ini, sumbangan sektor kelautan dalam PDRB Nasional masih di bawah 25%, jauh di bawah Cina dan Thailand yang jelas-jelas bukan negara maritim.

Untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim, diperlukan infrastruktur kompetensi nasional yang mendukung penguasaan sains dan teknologi yang dibutuhkan bagi negara maritim yang kuat. Dibutuhkan sarjana-sarjana ekonomi, sosial, politik, dan berbagai disiplin sains dan teknik di lingkungan maritim dan kepulauan. Karena keunikan Indonesia ini, perguruan-perguruan tinggi Indonesia mestinya menjadi pusat-pusat keunggulan kajian-kajian sains sosial, alam  (biologi, kimia, dan fisika) dan teknik kepulauan, termasuk teknik perkapalan dan teknik penerbangan (pesawat kecil antar pulau dengan kemampuan lepas landas dan mendarat di laut atau landas pacu pendek, untuk fixed maupun rotary wing.

Saya kira, memasuki usianya yang ke-50, ITS sebagai sebuah institusi pendidikan teknik terkemuka Indonesia sudah waktunya memperkuat infrastruktur kompetensi nasional dengan memposisikan dirinya sebagai universitas maritim. Tantangannya tidak mungkin dipikul hanya oleh sebuah Fakultas Teknologi Kelautan saja. Dengan demikian, kita bisa mulai melakukan pertobatan nasional, meninggalkan warisan penjajahan yang dirancang agar kita tetap abai terhadap takdir alamiah kita sebagai negara kepulauan.

Comments

  1. nikmah ocean engineering

    SETUJU, Pak..!! Indonesia memang parah. Sudah selayaknya kita memperbaiki kembali mindset pikir manusianya. Semua menyadari bahwa Indonesia memiliki beriburibu pulau, tapi tetap saja yg diurusi adalah angkatan darat dan kasus kriminal saja. Bhkan, kasus korupsi pemerintah semakin membludak. Tidak hanya pemerintah pusat, tetapi pemerintah daerah dan desa pun kini berjamaah untuk merebut uang rakyat. Hii.. mengerikan. Dan anehnya, katanya kita mempunyai Perguruan tinggi yg expert dan mempunyai keunggulan di bidang masing2. Sperti hukum UGM, Dirgantara ITB, Sospol UI tetapi rasanya Indonesia tidak mengalami perubahan yg lebih baik tuh. Saya rasa, kebanyakan yg duduk di pemerintah adalah orang2 yg “kelihatannya” bodoh dlm mengurusi negera ini. Masih banyak rakyat yang kelaparan, terampas hak-haknya, anak kecil banyak yang putus sekolah, pemudanyapun banyak yang tergerus moralnya ke arah budaya asing yang tidak baik. Inikah gambar negaraku? Indonesia memang lucu,. “negara berbasis kelautan tetapi sangat sedikit ahli di bidang ini..”

  2. Denyguragura

    Waah keren pak!!
    sepakat dengan tulisan bapak yang ini…
    saya mohon izin mengutip beberapa informasi dan pemikiran bapak yang ini….
    terimaksih

    salam…

  3. ardijono

    bagaimana menggugah kebeningan angan & ingin kesadaran berfikir, telah diulas dengan jelas walau berganti pemimpin dan kabinet, hasilnya tetap sama (lingkup+ lingkungan)… wacana dan pola berfikir terbentuk sedari TK s/d PT juga kehidupan sehari-hari.

    melihat paparan ulasan diatas, sungguh ideal, seharusnya demikian adanya, namun kenyataan menunjukkan (wacana keinginan diatas kertas, kita dan mereka membutuhkan bukti ideal tsb.) yang cilakanya, peri kehidupan nelayan/laut identik dengan kesengsaraan dan kemiskinan, namun tidak bagi “mereka” (warga asing) lebih makmur+ kaya, dalam satu ladang yang sama. Mereka tuan memperkerjakan tenaga kami di wilayah kekayaan perairan kami tinggali pula. tragis, bukan?

    Lantas dimana letak pelestarian kekeliruannya?
    ya pemahaman dan penanaman nilai mengenali diri sendiri sedekat mata memandang+rasa, bukan sejauh angan+ingin menggapai cita, bebas imaginasi (terbatasi)oleh kemiskinan+ketidaktahuan dibungkus oleh pengetahuan diajarkan apa yang ada dengan frame kacamata kuda oleh para pendidik, bukannya diberikan wacana luas, karena dibenturkan pada contoh fakta yang ada, bukan diajak menerawang dan membuat imaginasi menggapai mimpi [menjadi fakta keberhasilan, dikisahkan dalam jurnal+buku
    mahal sekali harganya]tentu saja, tak terjangkau oleh mereka lha kesempatan mendapatkan langka apalagi membacanya kapan pula tak paham tata bahasanya?

    sementara strata pengenyam pendidikan lebih diatas, setali 3 uang pula perilaku
    nya.., jarang ada koleksi(pun pustakawan juga pembacanya enggak tahu lagi enggan) membaca jenis buku sifatnya menjembatani diantara dua dunia, “bridging gap between
    .than/and.” teori+praktek, standard+praktis
    ,idea+fact …dst … sebagai pendorong wacana hasrat berfikir, bertindak dalam langkah nyata, kondisi+status keilmuan akademis, menuntut situasional yang sama
    dengan kondisi+situasi alam textbook.
    Sedang fakta kondisi lapangan jauh terbela -kang alias ada jurang pemisah dalam, membuat pilihan antara akademisi/alumni & masyarakat memilih jalannya sendiri, enggan seiring jalan, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Aparat/pejabat sebagai pamong seharusnya mempertemukan, juga enggan melakukan fungsi+kapasitasnya sebagai mediator jembatan penghubung antara
    bumi dan langit.

    bilakah jurang pemisah ini dianggap sebagai takdir tak berkesudahan, tanpa ada
    usaha menjembatani keduanya? atau berjalan
    pada posisi masing-masing,lantas mewalikan
    urusan ini kepada pihak lain (asing) sbg.
    penghubung, tentu dengan upah amat mahal,
    kebodohan+kemiskinan+sandungan di satu sisi dan kemakmuran+kesejahteraan+sanjungan di sisi lain, karena menikmati (komisi) konsesi telah disewakan dengan suka cita?

    lantas dimana manfaat beserta maknawi khasiat pendidikan kewarganegaraan
    beserta ilmu-ilmu lainnya yang selama ini diajarkan bagi para pembelajar?
    wallahu alam bishawab

  4. ardijono

    bagaimana menggugah kebeningan angan & ingin kesadaran berfikir, telah diulas dengan jelas walau berganti pemimpin dan kabinet, hasilnya tetap sama (lingkup+ lingkungan)… wacana dan pola berfikir terbentuk sedari TK s/d PT juga kehidupan sehari-hari.

    melihat paparan ulasan diatas, sungguh ideal, seharusnya demikian adanya, namun kenyataan menunjukkan (wacana keinginan diatas kertas, kita dan mereka membutuhkan bukti ideal tsb.) yang cilakanya, peri kehidupan nelayan/laut identik dengan kesengsaraan dan kemiskinan, namun tidak bagi “mereka” (warga asing) lebih makmur+ kaya, dalam satu ladang yang sama. Mereka tuan memperkerjakan tenaga kami di wilayah kekayaan perairan kami tinggali pula. tragis, bukan?

    Lantas dimana letak pelestarian kekeliruannya?
    ya pemahaman dan penanaman nilai mengenali diri sendiri sedekat mata memandang+rasa, bukan sejauh angan+ingin menggapai cita, bebas imaginasi (terbatasi)oleh kemiskinan+ketidaktahuan dibungkus oleh pengetahuan diajarkan apa yang ada dengan frame kacamata kuda oleh para pendidik, bukannya diberikan wacana luas, karena dibenturkan pada contoh fakta yang ada, bukan diajak menerawang dan membuat imaginasi menggapai mimpi [menjadi fakta keberhasilan, dikisahkan dalam jurnal+buku
    mahal sekali harganya]tentu saja, tak terjangkau oleh mereka lha kesempatan mendapatkan langka apalagi membacanya kapan pula tak paham tata bahasanya?

    sementara strata pengenyam pendidikan lebih diatas, setali 3 uang pula perilaku
    nya.., jarang ada koleksi(pun pustakawan juga pembacanya enggak tahu lagi enggan) membaca jenis buku sifatnya menjembatani diantara dua dunia, “bridging gap between
    .than/and.” teori+praktek, standard+praktis
    ,idea+fact …dst … sebagai pendorong wacana hasrat berfikir, bertindak dalam langkah nyata, kondisi+status keilmuan akademis, menuntut situasional yang sama
    dengan kondisi+situasi alam textbook.
    Sedang fakta kondisi lapangan jauh terbela -kang alias ada jurang pemisah dalam, membuat pilihan antara akademisi/alumni & masyarakat memilih jalannya sendiri, enggan seiring jalan, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Aparat/pejabat sebagai pamong seharusnya mempertemukan, juga enggan melakukan fungsi+kapasitasnya sebagai mediator jembatan penghubung antara
    bumi dan langit.

    bilakah jurang pemisah ini dianggap sebagai takdir tak berkesudahan, tanpa ada
    usaha menjembatani keduanya? atau berjalan
    pada posisi masing-masing,lantas mewalikan
    urusan ini kepada pihak lain (asing) sbg.
    penghubung, tentu dengan upah amat mahal,
    kebodohan+kemiskinan+sandungan di satu sisi dan kemakmuran+kesejahteraan+sanjungan di sisi lain, karena menikmati (komisi) konsesi telah disewakan dengan suka cita?

    lantas dimana manfaat beserta maknawi khasiat pendidikan kewarganegaraan
    beserta ilmu-ilmu lainnya yang selama ini diajarkan bagi para pembelajar?
    wallahu alam bishawab

    kucinge perpus
    si pandir nankelana bertanya

  5. ardijono

    semisal membaca jenis buku sifatnya menjembatani diantara dua dunia, “bridging gap between …than/and…” teori+praktek, standard+praktis ,idea+fact,koleksi issue :

    judul : Bridging the Socio-technical Gap in Decision Support Systems: Challenges for the Next Decade – Volume 212 Frontiers in Artificial Intelligence and applications
    karangan : F. Adam, G. Phillips-Wren, C. Teixeira A. Respício (Author), J. Telhada
    penerbit: IOS Press ; edisi : 1 ;
    tahun : July 15, 2010 ;ISBN-10: 1607505762
    $

    judul : Space Between – Bridging the Gap Between Workers and Young People
    karangan : Anita Mountain ; penerbit : Russell House ; tahun : 2004 ; ISBN : 1903855373 ; $50

    judul : Handbook of Education, Training and Supervision of School Psychologists in School and Community: Bridging the Training and Practice Gap: Building Collaborative University/Field Practices ; karangan : Judith Kaufman ; penerbit : Taylor & Francis ; tahun : 2009 ISBN : 041596279X ; $99. dst ..

    mempelajari dan menghubungkan 2 dunia beda
    membutuhkan perjuangan keras menghadirkan,
    “das Sollen” dan “das Sein” yaitu “apa yang seharusnya” dan “fakta yang ada”. bukannya turut serta melestarikan ulah
    (disadari/tidak) si penjajah dan sifat/ watak penjajahan sengaja ditanamkan, ketidakberdayaan dan kedigdayaan di jalur bidang pendidikan. Knapa? (pelestarian misi
    keterjajahan selama mungkin, merdeka fisik, terjajah mental, jauuh lebih dahsyat
    yaitu, terjadi upaya destabilisasi emisi mental+logika pincang :
    pengenalan+pemasaran “das Sollen” (terjadi didunia padepokan pendidikan, SD s/d PT, mengenal dan pasarkan ilmu+pengetahuan dari luar) menghilangkan “das Sein” yaitu “apa yang seharusnya” … “fakta yang ada”. (mengabaikan (kearifan lokal) milik sendiri).

    Yang terjadi di lapangan, (tercipta kesenjangan menjadi-jadi, antara teori berikut solusi + realita, enggak selesai, menciptakan peluang masalah baru lagi).
    Karena, telah terbentuk perilaku+pola pandang (dunia asing) sejak dini hingga dewasa, lewat jalur pendidikan yang disediakan+dibiayai oleh negara dan rakyat nya untuk melawan dirinya sendiri!?! (semacam membuat kelainan jaringan, tanpa mampu menghentikannya, kanker pikiran dan mental kali?, lantas unsur jiwa+nuraninya dikemanakan? ya

    inspirasi kutipan :
    http://ganden.wordpress.com/2006/08/13/das-sollen-versus-dan-das-sein/

  6. ardijono

    melahirkan klon-2 baru, anak didik penjajah,
    sukses menjadi tak ubahnya sifat dan perilaku menjajah buat saudaranya sendiri (warna kulit boleh sama, sifat beda), mengabdi dan berbakti
    pada tuannya, menginjak, menggencet saudara sendiri (itu, jajaran komprador) kaki tangan
    buat siapa..? lantas kapan makna merdeka yang sesungguhnya? kalau mereka melakukan siasat melalui pendidikan, dan terbukti ampuh melahirkan kader-kader menguntungkan dirinya,membikin grundelan+ketidaknyamanan
    khoq smakin lestari lagi banyak peminatnya knapa pemikiran+pendapat yang bregas lagi waras diatas, khoq enggan didukung ya …?

    apa iya dibutuhkan kajian psikologis atas jiwa+nurani, sakjane waras opo ora?
    amenangi jaman edan, ewuh boyo ing pambudi
    ra melu edan, ora komanan, ngedan khoq nora kuwagang. sak begjo begjane sing lali
    jih begjo kang eling klawan waspodo..
    (alm. Pujonggo Ronggowarsito)
    terserah pilih yang mana, sumonggo dipilih-2 semua mengandung konsekwensi khoq

  7. Bin Hariyanto

    saya setuju pak, dengan tulisan bapak, dan tidak dipungkiri kita semua (khususnya setiap kita dibidang kemaritiman) tahu akan masalah yg dihadapi bangsa ini mengenai kemaritiman kita yang sedang nyenyak tertidur, akan tetapi yg perlu dipertanyakan bagaimana tindakan kita selanjutnya. mungkin bisa dikhususnya untuk para pemuda-pemuda bangsa yang sedang menuntut ilmu kemaritiman. tindakan konkrit seperti bagaimana untuk bisa membangunkan kemaritiman kita yg sedang tertidur. salah satunya mungkin dengan cara kita (pemuda/mahasiswa) mempelajari segala sesuatu tentang kemaritiman untuk mempersiapkan diri sebagai ‘agent of change’ bangsa ini. akan tetapi kenyataan yg ada, setelah dari pemuda-pemuda mendapatkan ilmu yg cukup, mereka malah sering bekerja mencari penghasilan untuk diri mereka sendiri di perusahaan-perusahaan asing. sampai akhirnya benar-benar dibutakan oleh penghasilan, tanpa terpikirkan untuk mulai membangunkan kemaritiman kita. itu yg sering terjadi di kehidupan sekarang pak. menurut bapak bagaimana mengenai keadaan seperti itu? dan seperti apa seharusnya (solusi)?

    sekedar info yg saya dapat, potensi alam kita khususnya dibidang kelautan sangatlah melimpah. hanya saja SDM kita yg kurang. saya lihat paling tidak ada sarjana ahli kemaritiman yg lulus mencapai 100 tiap tahunnya, seharusnya bisalah sedikit demi sedikit membangunkan kemaritiman kita, akan tetapi belum ada hasil yang terasa dalam bangsa ini. atau mungkin dikarenakan 100 org itu kurang untuk membangunkan kemaritiman kita? jika kurang apakah yg mesti dilakukan bangsa ini? ditambah lagi kadaan sang penguasa bangsa (baca:pemerintah) sedang berperang demi kedudukan yg tinggi, tanpa melihat kondisi real bangsa ini? apa yg harusnya dilakukan untuk menanggapi hal tersebut?

    mungkin cukup itu dulu pak,tanggapan saya.
    mohon maaf jika ada kesalahan kata, maupun terlalu menkritisi dan terkesan ‘kontra’ dengan bapak. saya hanya ingin memberi jawaban kepada diri saya sendiri, dan mungkin kepada teman” saya mengenai hal diatas.
    sekali lagi mohon maaf pak?
    semoga penjelasan bapak bisa mengingatkan kembali saya beserta pemuda-pemuda ataupun siapapun untuk mulai membangunkan kemaritiman bangsa kita ini.
    terimakasih pak.

    Bin Hariyanto
    FTK-ITS

Leave a Reply to Bin Hariyanto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *