Kita Tidak Butuh Sekolah, Apalagi Kurikulum

PENDAHULUAN

Kemendikbud telah menyiapkan Kurikulum 2013 yang diklaim sebagai penyempurnaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diluncurkan pada tahun 2006 lalu. Benarkah demikian  ? Hemat saya KTSP secara konsep jauh lebih baik, tapi dibiarkan gagal oleh Kemendikbud sendiri dengan tidak menyiapkan guru yang cakap dalam jumlah yang memadai.

Kurikulum 2013 dinyatakan sebagai respons terhadap perkembangan mutakhir sekaligus hasil sigi internasional seperti PISA, TIMSS dan PIRLS yang menempatkan warga muda Indonesia di papan bawah komunitas global di bidang matematika, sains, dan ketrampilan membaca.

Hemat saya, wacana Kurikulum 2013 berpotensi  menyembunyikan dua akar masalah pokok pendidikan Indonesia saat ini, yaitu tata kelola pendidikan yang buruk (poor education governance) dan guru yang tidak kompeten. Otak-atik kurikulum jauh lebih gampang dan enak daripada memperbaiki tata kelola pendidikan dan menyiapkan guru yang kompeten.

Kurikulum terbaik sekalipun pasti akan gagal di tangan guru yang tidak kompeten. Sebaliknya, di tangan guru yang kompeten, kurikulum yang sederhana akan menghasilkan proses belajar yang bermutu. Otak-atik kurikulum adalah cara gampangan yang tidak mendasar dalam perbaikan pendidikan Indonesia, dan sekaligus membiarkan ketidakcakapan dan ketidakberdayaan komunitas guru sebagai pintu masuk bagi intervensi politik dan pragmatisme proyek hingga ketingkat sekolah seperti pengadaan buku-buku wajib yang tidak bermutu tapi menghabiskan ratusan Milyar atau bahkan Triliunan Rupiah.

Banyak studi di dunia menunjukkan bahwa Tata Kelola Pendidikan yang buruk adalah sumber korupsi. Saat ini pengelolaan pendidikan Indonesia sangat centralised and executive-heavy sehingga terlalu berorientasi pasokan. Akibatnya pendidikan semakin tidak relevan dan kebutuhan murid yang beragam cenderung tidak diperhatikan. Amanat UU 20 tentang Sisdiknas pasal 38 terlanggar oleh praksis pendidikan saat ini apalagi oleh Kurikulum 2013.

Salah satu agenda penting dalam perbaikan Tata Kelola Pendidikan adalah desentralisasi dan diversifikasi pendidikan. Desentralisasi pendidikan yang penting tidak saja dengan penguatan prakarsa Kabupaten dan Kota dalam pengelolaan pendidikan daerah, tapi juga penguatan organisasi profesi guru dan penguatan Dewan Pendidikan Daerah serta asosiasi wali murid (Parents Association) sebagai wakil konsumen pendidikan. Sertifikasi guru seharusnya dilakukan secara independen oleh organisasi profesi guru, bukan oleh Kemendikbud atau LPTK.

Agenda setting pengelolaan pendidikan, termasuk evaluasi dan kurikulum baru, seharusnya dilakukan oleh Dewan Pendidikan Daerah setelah berkonsultasi dengan Asosiasi Wali Murid di daerah, bukan ditentukan oleh penerbit buku atau kontraktor proyek Kemendikbud dan Dinas Pendidikan Daerah. Dalam era otonomi dan demokrasi ini, Kemendikbud seharusnya tidak “segemuk” sekarang.

Di dasar analisis saya, wacana kurikulum sebagai taruhan bonus atau tagihan demografi dipijakkan pada paradigma sekolah : Memperbaiki kurikulum adalah memperbaiki sekolah, dan memperbaiki sekolah adalah memperbaiki pendidikan. Padahal belajar sebagai inti dari pendidikan sebenarnya tidak membutuhkan sekolah. Artinya, pendidikan universal yang bermakna tidak mungkin tercapai dengan mengandalkan sistem persekolahan, apalagi sekedar otak-atik kurikulum belaka. Fakta empiris Indonesia maupun global tidak membuktikan secara meyakinkan bahwa semakin banyak sekolah menjadikan masyarakat semakin terdidik.

PENDIDIKAN DI ERA INTERNET

Di era internet ini ternyata iman kebanyakan kita pada sekolah tidak tergoyahkan sama sekali. Oleh Mendikbud otak-atik kurikulum sebagai bagian penting sebuah sekolah seakan-akan menjadi taruhan besar  bangsa ini. Padahal taruhan besar itu tidak di persekolahan, apalagi di kurikulum, tapi di pendidikan. Inti pendidikan adalah belajar. Tidak bersekolah tidak perlu membuat kita khawatir. Yang merisaukan adalah jika anak-anak tidak belajar.

Dengan internet belajar semakin tidak membutuhkan sekolah, apalagi kurikulum. Membentuk karakter pun hanya bisa dilakukan secara efektif dengan praktek di luar sekolah. Selama beberapa dekade terakhir ini terlihat bahwa semakin banyak sekolah tidak menyebabkan masyarakat kita makin terdidik. Hasil sigi internasional terbaru oleh PISA maupun TIMSS serta PIRLS juga menunjukkan murid Indonesia tertinggal pada kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan kemampuan membacanya juga tertinggal dibanding teman-teman sebayanya. Artinya, sekolah Indonesia tidak membekali murid dengan kompetensi yang penting untuk hidup di abad 21.

KURIKULUM

Kurikulum adalah serangkaian hasil belajar yang diharapkan, dan seluruh proses yang menghasilkan pengalaman belajar, serta mekanisme evaluasi hasil belajar murid di bawah panduan guru di sekolah. Jadi kurikulum adalah atribut penting sistem persekolahan. Segera perlu dicatat bahwa mekanisme evaluasi merupakan komponen kurikulum yang penting. Salah satu penyebab kegagalan KTSP adalah Ujian Nasional yang ikut menentukan kelulusan sehingga menggiring proses belajar yang tidak pernah menghasilkan hasil belajar yang diharapkan. Kurikulum 2013 akan digagalkan oleh UN yang sama, kecuali jika dilakukan reposisi UN.

Siapa yang membutuhkan kurikulum  ? Sekolah, Yayasan pengelola sekolah,  guru yang bekerja di sekolah, Dinas Pendidikan, Kemendikbud,  para ahli kurikulum, dan penerbit yang mau mencetak buku wajib yang akan dipakai di sekolah. Asumsi dasar pada setiap penyusunan kurikulum adalah bahwa anak akan mencapai prestasi belajar maksimal jika  melalui serangkaian instruksi dan lingkungan buatan, serta mekanisme evaluasi yang terstruktur dan terencana.  Saya berkeyakinan asumsi ini agak meremehkan kecanggihan manusia beserta semua perangkat belajarnya yang telah diciptakan oleh Tuhan sebagai ciptaan terbaik. Manusia bisa belajar dalam situasi apapun, bahkan dalam situasi yang paling getir sekalipun. Bahkan manusia belajar jauh lebih banyak dari pengalamannya di luar sekolah.

Murid sekolah sebenarnya tidak membutuhkan kurikulum resmi yang kaku. Bahlan anak yang cerdas sebenarnya tidak membutuhkan sekolah. Kebanyakan anak-anak kita sebenarnya cerdas. Di banyak sekolah kecerdasan mereka sering diremehkan oleh proses belajar yang tidak menantang yang disajikan oleh guru yang tidak kompeten. Kecerdasan merekapun sering diukur oleh instrumen yang tidak cocok, seperti tes pilihan ganda. Puncak penghinaan atas kecerdasan ini adalah Ujian Nasional yang dibantu oleh mesin pemindai ikut-ikutan menentukan kelulusan mereka. Akibat proses yang salah ini, kecerdasan anak-anak ini justru menurun dan mereka justru kehilangan jati diri dan percaya diri.

Di Sulawesi Selatan, anak nelayan yang cerdas tidak pergi ke sekolah, tapi membantu ayahnya melaut mencari ikan. Anak yang tidak terlalu cerdas justru disuruh ke sekolah. Para nelayan Bugis itu secara intuitif tahu bahwa bagi anak yang cerdas, tidak banyak yang bisa dipelajari di sekolah. Gejala seperti ini terjadi juga di Madura. Statistik yang menyatakan bahwa lama bersekolah menunjukkan tingkat keterdidikan seseorang atau suatu daerah tidak sepenuhnya benar. Asumsi statistik itu adalah semakin lama bersekolah makin baik dan makin terdidik. Asumsi ini harus dipertanyakan.

Sesungguhnya hanya anak yang malas dan berkebutuhan khusus yang memerlukan kurikulum yang “well-designed” oleh para teknokrat ahli. Anak-anak normal tidak membutuhkannya. Dengan bermain di ruang terbuka dan di alam anak-anak belajar jauh lebih banyak daripada di kelas yang sempit di sebuah tempat yang kita sebut sekolah. Neurosains menemukan bahwa ruang kelas adalah tempat paling buruk bagi proses belajar. Bekal terpenting bagi anak-anak normal ini adalah akhlaq yang baik, kegemaran membaca, ketrampilan menulis, berhitung, berbicara dan kesempatan praktek yang memadai bagi ketrampilan-ketrampilan untuk hidup secara produktif.

SCHOOLISM

Kita sudah kecanduan sekolah sehingga tidak mampu membayangkan dunia tanpa sekolah. Padahal masyarakat tanpa sekolah itu ada dan pernah ada dengan kualitas kehidupan yang jauh lebih baik daripada sebuah schooled society yang dengan congkak kita sebut modern ini. Masyarakat adat yang jauh dari sekolah yang ada di daerah pedalaman lebih tahu caranya hidup bersahabat dengan alam daripada masyarakat Jakarta yang tidak tahu caranya membuang sampah. Tapi orang kota memandang remeh masyarakat adat sebagai kampungan dan terbelakang.

Dalam perspektif sejarah, sekolah semula dibuat untuk menyiapkan buruh yang akan mengisi pabrik-pabrik yang tumbuh akibat revolusi industri di Inggris sekitar abad 17 setelah James Watt menemukan mesin uap. Sebelum itu masyarakat tidak mengenal sekolah. Tradisi universitas muncul jauh mendahului tradisi sekolah. Oxford, Cambridge umurnya sudah 700 tahun. Baitul Hikmah di Baghdad ada beberapa ratus tahun sebelum Oxford. Sebelum pergi ke universitas masyarakat pra-revolusi industri praktis belajar secara otodidak atau melalui proses belajar non-formal atau  bahkan informal. Yang dikenal hanya ijazah sarjana, magister atau doktor. Itupun diberikan jika mahasiswanya meminta. Jadi, sekolah adalah fenomena yang umurnya kurang dari 200 tahun. Dalam 200 tahun itulah proses perusakan ekosistem global terjadi secara masif yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah evolusi manusia.

JEJARING BELAJAR

Untuk memastikan pendidikan universal bagi kebanyakan anak-anak Indonesia, yang diperlukan bukan pembesaran sistem persekolahan. Yang diperlukan adalah pengembangan sebuah jejaring belajar (learning webs) yang lentur, luwes, lebih non-formal, bahkan informal. Sekolah hanya salah satu simpul dalam jejaring belajar tsb. Bengkel, toko, klinik, studio, lembaga penyiaran, penerbit, perpustakaan kecamatan, restoran, koperasi, gereja, kuil, dan masjid dapat menjadi simpul-simpul belajar. Simpul belajar yang pertama dan utama adalah keluarga di rumah. Bukti kompetensi bisa ditunjukkan dengan sertifikat kompetensi profesi yang diterbitkan oleh asosiasi profesi, bukan dengan ijazah. Namun syarat-syarat formalistik inipun sebaiknya diberlakukan secara sukarela. Sertifikat kompetensi bisa menjadi indikator kompetensi yang lebih baik daripada ijazah.

Kegagalan sistem persekolahan ditunjukkan secara gamblang di abad 21 di depan mata kita oleh krisis hutang (pribadi, korporasi dan negara) di Amerika Serikat dan Eropa yang dengan kekaguman kita sebut modern itu. AS adalah negara dengan hutang terbesar di dunia. Keberlimpahan “negara kesatu” itu ternyata dicapai melalui hutang untuk membiayai gaya hidup yang sangat konsumtif, boros energi dan merusak lingkungan. Padahal baik AS maupun Eropa adalah masyarakat yang “paling bersekolah” dengan “kurikulum yang paling canggih”.

Formalisme kronis persekolahan harus dikurangi seminimal mungkin. Oleh Illich ini disebut deschooling. Saat ini di Indonesia schoolism sudah pada tingkat yang berbahaya. TK saja mengeluarkan ijazah. Ijazah seolah menjadi bukti kompetensi seseorang. Kasus ijazah palsu yang marak terjadi adalah bukti bahwa memang masyarakat lebih membutuhkan ijazah daripada kompetensi. Hanya yang butuh ijazah yang butuh sekolah. Kita yang tidak butuh ijazah tidak butuh sekolah, apalagi kurikulum. Tanpa kurikulum resmi sekolah akan baik-baik saja. Tanpa sekolahpun kita sebenarnya baik-baik saja. Kita boleh mulai khawatir kalau kita tidak belajar.

PENUTUP

Hiruk pikuk Kurikulum 2013 berpotensi menyembunyikan masalah pokok pendidikan Indonesia : tata kelola yang buruk dan guru yang tidak cakap. Jikapun kita masih percaya dan membutuhkan sekolah, kita tidak membutuhkan kurikulum baru. KTSP dan Standar Nasional Pendidikan secara konsep sudah memadai dan memberi ruang bagi diversifikasi dan inovasi.

Yang kita butuhkan adalah guru-guru yang cakap yang bersama Komite Sekolah mengembangkan kurikulum yang cocok dengan potensi daerah yang unik, dan relevan dengan kebutuhan murid sebagai subyek yang cerdas yang unik pula. Kita membutuhkan guru yang cakap yang menghargai kecerdasan murid-muridnya, yang dapat kita percayai untuk mengevaluasi penguasaan kompetensi murid-muridnya secara multi-ranah multi-cerdas. Kita tidak membutuhkan guru pemalas dan tidak bertanggungjawab yang mengevaluasi murid-muridnya dengan tes tulis pilihan-ganda yang bisa diserahkan kepada mesin pemindai.

Jika pendidikan hendak kita jadikan sebagai strategi kebudayaan, maka yang kita harus kerjakan adalah membangun dan menghargai tradisi otodidak. Kita harus mengurangi kecenderungan sekolah memonopoli pendidikan, merampasnya dari tanggungjawab pribadi dan keluarga. Kesaktian kurikulum dan sekolah hanyalah mitos belaka.

Catatan Penulis : Prof. Daniel Mohammad Rosyid, Ph.D adalah guru besar pada Jurusan Teknik Kelautan ITS, mantan Ketua Dewan Pendidikan Jatim, Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Cab. Surabaya.

Daniel bisa dihubungi via mobile 081335272761 dan www.danielrosyid.com.

Comments

  1. lita kubaca

    Sebagai bangsa yang dianugerahi SDA dan SDM melimpah oleh Allah SWT sudah seharusnya kita menjadi contoh bangsa lain, terutama sebagai manusia yang unggul dan mandiri dipermukaan planet bumi ini. Saya sangat setuju dengan apa yang dipaparkan Prof. Daniel, bahwa yang sebetulnya kita butuhkan adalah kemudian akses dan komunitas2 sebagai sarana belajar. Negara Indonesia yang berbhineka tunggal ika adalah sumber belajar yang tiada duanya di negara manapun. Menseragamkan standart pendidikan lewat ujian nasional adalah bentuk kekufuran kita. Jejak rekam setiap manusia sebelum menjadi sehebat apapun saat ini dimulai dengan belajar di rumah bersama ibu atau keluarga terdekat. Banyak pertanyaan dari rasa keingintshuan yang besar. Anak belajar untuk bisa mencandra dan memaknai apa yang dirasakan, dilihat, diraba, dsb . Itu semua mulai berkurang ketika masuk ke sekolah. Kurikulum dan gaya mengajar guru menegaskan sebagian anak2 terbunuh kreatifitasnya, apalagi menjelang UN. EKSKUL ditiadakan diganti try out 2 dan drilling soal2 UN. Inikah yang dinamakan pendidikan yang memanusiakan manusia ? Kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

  2. tetehguru

    Setuju sekali dengan kalimat ini

    Kurikulum terbaik sekalipun pasti akan gagal di tangan guru yang tidak kompeten. Sebaliknya, di tangan guru yang kompeten, kurikulum yang sederhana akan menghasilkan proses belajar yang bermutu.

  3. handaka

    judul yg profokatif begini cenderung bias serta mudah memunculkan apriori bagi pembaca. apakah sekolah, dalam pengertian yg luas, hanya institusi yg didefinisikan pemerintah. demikian juga kurikulum,”kita tidak butuh kurikulum”, apakah artinya tidak ada orang yg bisa berfikir merdeka dan mendidik anak dengan “kurikulumnya sendiri”

    tapi saya jadi belajar sesuatu, untuk hati2 menggunakan kalimat yg bersifat sinisme. sinisme diatas (semacam keangkuhan sebagai seorang yg berprofesi guru disebuah instiusi sekolah milik pemerintah, apapun namanya) menjadi tidak terlalu enak & nyaman utk disimak. terimakasih

  4. Sulistyanto Soejoso

    Kurikulum yang paling tepat adalah kurikulum yang berbasis lingkungan,kebutuhan dan minat siswa. Karena lingkungan,kebutuhan dan minat siswa berbeda2,sungguh naif dan primitif kalau kemendikbud terus memaksakan sentralisasi pendidikan. Era internet adalah eranya keotodidakan. Di era yang seperti ini, fungsi sekolah (jika masih dibutuhkan) ada dua, yaitu : mengasah ketrampilan belajar siswa sesuai kecenderungan gaya belajar masing-masing siswa dan mengasah ketrampilan siswa untuk merancang kurikulumnya sendiri. Jika ini dilakukan,pada mayoritas anak akan bertumbuh kembang hasrat belajar.Pertanyaan kritisnya, relakah kemendikbud mewujudkan ini?

  5. Casman

    Bismillah,Satu Terobosan Pemikiran yg Luar biasa brani Prof Daniel ” Tidak menjadikan Sekolahan sbg Monopoli Pendidikan ” sekolah mayoritas menggiring manusia berorientasi pekerja dimasa mendatang,bukan manusia kreatif yg siap hidup disetiap keadaan,” Belajar itu luas skali tdk cuma di sekolah,maju terus Prof……

  6. yusuf

    kadang saya merasa lebih banyak hal yang bisa saya lakukan dan banyak hal yang bisa pelajari serta memahami sesuatu lebih cepat setelah saya lepas dari system sekolah, BTW tulisan yang menarik 🙂

  7. bintang

    anda menulis tentang tidak perlunya sekolah dan kurikulum… tetapi anda menyekolahkan anak-anak anda, bagaimana menjelaskan itu?

  8. Dani Siregar

    Yang paling saya sesali, beberapa mindset orang di sekitar mengajarkan untuk mendapatkan nilai dan rank yang sebagus-bagusnya, tanpa khawatir ilmu & pengalamannya didapat.

    Jelas saja tercipta punya gelar & ijazah tapi nganggur & (maaf) IPK tinggi tapi nafkah kurang mencukupi beberapa kebutuhan.

    Lucunya, dengan ilmu yang saya dapatkan di Gramedia & Google, sedikit banyak saya ‘merasa’ SQ, EQ, & IQ saya nambah. Termasuk pula, ‘isi kantong’ 🙂

    Memang, iya intinya yang kita butuhkan itu belajar.

  9. daru kuswanto

    menarik sekali Pak Daniel Rosyid tulisannya.
    memang kondisi dilapangan seperti itu. Tulisan anda kembali menyadarkan saya (sbg guru) untuk terus memacu semangat belajar sy. harusnya kemampuan guru ditingkatkan secara berkesinambungan, tp ternyata pak Mentri lebih suka ganti kurikulum yg bikin bingung temen2 guru..

    maturnuwun pak…

  10. muhamad nur sodiq

    pmikiran yg sangat baik…saya seorang guru yang sangat prihatin dengan pendidikan di sekolah saya
    1.siswa berfikir smua diukur dari nilai jadi banyak menghalalkan cara untuk dp nilai
    2.ketidak berhasilan saat tidak lulus atau ketidaknaikan adalah aib jadi banyak yang malu begitu juga sekolah akhirnya sekolahpun kadang melakukan upaya yg tidak jujur untuk kelulusan anak didiknya…kita tidak menyadari bahwa belajar adalah ibadah bkan angka atau pengakuan…bkan terletak pada hasil tapi proses untuk mengenal kekurangan dan memperbaiki agar lebih dekat dengan sang pencipta

  11. Muslih

    luar biasa….
    semoga kita tidak tuli, bisu,dan buta.
    sekolah, perguruan tinggi, dinas pendidikan dan kementrian pendidikan yang mengebiri hebatnya fitrah anak manusia segeralah bertobat….

  12. wawan

    artikel yang menarik, pemikiran yang sangat modern. tapi jika tidak ada kurikulum maka struktur pendidikan tidak akan bisa terorganisir dengan baik

  13. hidayat

    tulisan ini sungguh menarik untuk dipertimbangkan, ijin share yah….<<<< dan jadi referensi buat di diskusikan di kalangan pemuda yang peduli kondisi pendidikan Indonesia… dan 85 % saya sepakat dalam konteks dua permasalahan mendasar yang diuraikan, dan sekitar 65 persen dalam konteks kurikulum kaitannya dengan kebutuhan pendidikan Indonesia

  14. pratiwi soediono

    Saya sangat sependapat dengan uraian bapak.. di kebanyakan sekolah dg guru guru yg tidak kompeten, yg terjadi adalah pembunuhan karakter dan proses pembodohan yg nyaris terstruktur.. bravo pak daniel..

  15. rokhwan

    saya pribadi cenderung membuka lembaran lama, munculkan spg (sekarang boleh dusebut SMK Keguruan) dari sisi ini akan teratasi carut marut pendidikan, karena pada kurukulum SPG dulu ada mata pelajaran METHODIK KHUSUS, belajar cara mengajar yang di pelajari secara mendasar, ingat peletakan konsep dasar cara berfikir seseorang adalah pada pengalaman pertama yang di alami, ( ingat, kenapa pasang iklan di halaman Muka suatu media harganya mahal ? )

  16. Enda Mulyanto

    Saya sangat setuju dengan pemikiran Prof. Daniel Mohammad Rosyid, Ph.D yang menyadarkan – kalau mau sadar – bahwa pendidikan salah kaprah sedang terjadi di Indonesia.

  17. mustaien

    inspiratif prof.. secara pribadi saya semakin yakin bahwa gerakan yang sedang kami bangun bersama teman-teman guru sejati untuk mewujudkan gennus (gen nusantara) merupakan jalan yang diharapkan pendidikan kita. sebuah pola pendidikan yang menjadikan guru sebagai teman belajar (fasilitator) dan lingkung (alam fisik, alam hayati, budaya, masyarakat serta agama) merupakan sumber belajar tiada batas. dengan begitu kami sangat berharap di setiap daerah akan muncul pembelajaran khas nan unik dimana peserta didik tidak akan tercerabut dari akar lingkungnya.

    salam hangat
    mustaien
    fasilitator TRUE (Teacher Resources Empowerment)

  18. Pingback: Cerita Cewek di Pojok Hari 140 | Deskinanti Endah Pertiwi

  19. Fawaya Sri Sudaryatni

    Assalamualaikum Prof.Daniel Muhammad Rosyid,Ph.d
    sy mungkin terlambat membaca tulisan Bapak krn sy baru membacanya sekarang 28 Feb 2014.Saya sependapat dengan tulisan Bapak yang ini”Hemat saya, wacana Kurikulum 2013 berpotensi menyembunyikan dua akar masalah pokok pendidikan Indonesia saat ini, yaitu tata kelola pendidikan yang buruk (poor education governance) dan guru yang tidak kompeten. Otak-atik kurikulum jauh lebih gampang dan enak daripada memperbaiki tata kelola pendidikan dan menyiapkan guru yang kompeten.

    Kurikulum terbaik sekalipun pasti akan gagal di tangan guru yang tidak kompeten. Sebaliknya, di tangan guru yang kompeten, kurikulum yang sederhana akan menghasilkan proses belajar yang bermutu. Otak-atik kurikulum adalah cara gampangan yang tidak mendasar dalam perbaikan pendidikan Indonesia, dan sekaligus membiarkan ketidakcakapan dan ketidakberdayaan komunitas guru sebagai pintu masuk bagi intervensi politik dan pragmatisme proyek hingga ketingkat sekolah seperti pengadaan buku-buku wajib yang tidak bermutu tapi menghabiskan ratusan Milyar atau bahkan Triliunan Rupiah.”

  20. Abdul Azis

    Pernah saya menanyakan pada guru matematika SMA saya dulu. Untuk apa siswa harus mempelajari ilmu matematika yang begitu rumit seperti yang diajarkan di SMA saat itu.

    Beliau menjawab bahwa semua ilmu tersebut hanya diperlukan untuk bisa lulus sekolah. Dan setelah itu, kecuali sang siswa hendak mengejar profesi yang berfokus di dunia matematika, semua ilmu tersebut tidak lagi akan pernah terpakai. Ilmu matematika yang dibutuhkan sebagian besar bidang pekerjaan sebenarnya hanyalah “Tambah”, “Kurang”, “Kali”, “Bagi”.

    Terima kasih atas tulisan anda.

  21. yasser

    sepakat dengan pendapat bahwa kunci kesuksesan pendidikan adalah: tata kelola pendidikan dan kompetensi guru. oleh krn itu, sudah waktunya profesi guru diposisikan sejajar dengan profesi penting lainnya misalnya dokter atau akuntan. konsekwensinya, pendidikan calon guru (pre-service education) perlu dibuat menjadi “elit” dengan seleksi yang ketat sehingga hanya mereka yang benar-benar berpotensi dan memiliki passion serta bakat sebagai guru yang layak masuk dalam program pendidikan tersebut. hal diatas tentunya harus ditunjang dengan jaminan penghasilan yang tinggi yang sepadan dengan tingkat kesulitan dalam proses seleksi dan proses pendidikan yang dijalani.

  22. ismanita

    menarik pak
    anak saya baru satu tahun sekarang, saya mulai berfikir dan mencari informasi untuk home schooling saja untuk anak saya itu…
    saya sebagai guru juga gak setuju ganti-ganti kurukulum.

  23. jasapenerjemahan

    tulisan mencerahkan pakk, pendidikan terpenting bagi anak ada pada keluarga atau orang tua.. setelah cukup umur kemudian orang tua bertugas mencarikan guru2 terbaik bagi anak-anaknya.

  24. Tricahyo Abadi

    Sebelum Kurikulum 2013 muncul, ditjen PMPTK melalui program-programnya telah mengorganisasi UPT di bawahnya untuk menelurkan guru-guru yang kompeten untuk mendampingi peserta didik. Ini yang perlu dilanjutkan. 🙂

  25. ridho

    Potret pendidikan indonesia yang buram. Saatnya berhenti mencari proyek lewat perubahan kurikulum dengan segala aspeknya tetapi memantapkan posisi pendidikan yang utuh untuk anak bangsa

  26. Elisa Sugito

    Prof. Daniel, saya ingin bertanya terkait permasalahan pencabulan anak yang terjadi contohnya di Jakarta International School. Apakah kasus demikian menunjukan bahwa sistem pendidikan kita harus dibenahi? mulai dari perekrutan pegawai, guru, pola pembelajaran, materi pembelajaran. Saya pikir ada yang keliru pada input , proses, hingga output dalam pendidikan kita hari ini. Mohon pencerahnnya Prof ?

  27. steven

    Salam kenal pak Daniel, saya sangat setuju dg salah satu point yg Bp sampaikan: kita lbh membutuhkan sertifikat kompetensi drpd sekedar ijazah. Jaman pendidikan Yunani kuno dahulu (cikal bakal pendidikan dg pola classical) anak-anak di ‘sekolahkan’ pd seorg ‘pakar’ dan sang pakar itu sendiri yg mendidik anak-anak tsb sehingga mrk akan mendapatkan ‘porsi yg terbaik’. Saya yakin, jika konsep ‘Learning webs’ yg Bp bicarakan di beri kesempatan utk ‘membuktikan dirinya’ scr lbh terbuka seperti kebanya?an sekolah umum yg ada saat ini, maka Learning webs justru akan memiliki peluang utk memunculkan lebih banyak org-org yg berkompetensi di bidangnya… Otomatis ini jg akan ikut membantu mengurangi tingginya angka ‘pencari lapangan kerja’…
    Teman-teman, kita membutuhkan para pionir yg mau melangkah di ‘jalur ini’, juga org-org yg mampu ‘melihat tantangan masa depan’ dan mempersiapkan anak-anak mrk dg cara yg berbeda…. Gbu

  28. Temmy

    paling joss menurut saya, kurikulum serahkan sekolah masing2, biar mengkondisikan dgn type/model anak2 sekarang (teori 30% skill 70% atau sebaliknya)terserah dan pemerintah cukup menilai sekolah mana yg berkompeten dlm membentuk karakter, kecerdasan intelegensi & motorik anak, bikin uji kompetensi siswa bertaraf regional, nasional & internasional biar anak didik kita berlomba-lomba dlm bereksperimen & berinovasi(beri pengakuan internasional untuk anak bangsa jika mmg karyanya bisa di akui dunia, terbukti jenis penghargaan yg baik membawa dampak bergengsi & memicu kreatifitas anak apalagi utk anak2 type jaman skrg… (All:bagus semua komennya)

  29. Mulyana ahmad

    Sy alumni SMA yg pernah kuliah 2 semester

    SURAT CINTA UNTUK IBU SUSI PUDJIASTUTI
    Sy angkat kembali tulisan saya yang lalu sebagai surat cinta sy kepada menteri yg menangani maritim dan kelautan.
    Salam hormat sy kepada Ibu menteri, sy beharap banyak kepada Ibu yang sudah malang melintang di lautan dan di udara. Ibu adalah perpaduan kekuatan Arimbi dan Gatotkaca. Di lautan Ibu berjaya sebagai expotir hasil laut dan di udara Ibu berjaya sebagai pemilik maskapai penerbangan Susi Air. Sy tdk peduli dengan cemoohan banyak orang mengenai pendidikan Ibu yg hanya tamat SMP. Sy yakin Ibu mampu menggaji 1000 orang pencemooh yg sok pandai itu dengan mudah.
    Sy kembali mengingatkan bahwa indonesia sebagai mega biodiversity terbesar di dunia, . Indonesia yang memiliki garis pantai sepanjang 95.181 Kilo meter persegi dan bila digabung dengan Zona Ekonomi Ekslusive akan mencapai luas 7,9 juta km persegi. Karakteristik ini menjadikan Lautan Indonesia merupakan wilayah Marine Mega-Biodiversity terbesar di dunia, memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang. Modal dasar yg cukup untuk membuat indonesia jaya di lautan. Ini adalah sumber kekayaan sumber daya alam yang Tuhan telah karuniakan kepada indonesia, yang padanya tersimpan sumber pangan berupa tangkapan ikan, bahan baku kosmetik, bahan baku obat, bahan baku mineral, bahan baku farmasi dan bahan baku industry.
    Sisik ikan adalah baham baku utama collagen pangan, kosmetik dan obat yang halal dan bernilai tinggi. Bahan anti aging, penghilang kerut, bahan pembuat selongsong sosis, kapsul, animal protein utama memperbaiki texture pengganti bovine protein dll. Hari ini kita baru bisa menjual sisik ikan ini dan 100 % collagen kita import. Kita membeli barang jadi yg notabene seluruh bahan bakunya dari indonesia dengan kerugian nilai tambah 100x lipat.
    Kerang-kerangan kita dibeli hongkong, taiwan dan singapore dengan harga murah kemudian merekan treatment sederhanaenggunakan ozone nanobubble sehingga hilang seluruh kandungan norovirusnya,kemudian di reexport dgn harga 3 sd 10x lipat.
    Ikan Tuna beku kita masih kelas 2, di beli hanya intuk bahan baku tuna kalengan. Tdk bisa lebih dari itu. Padahal ikan tuna beku Australia laku Rp 1 milyar/ekor di jepang.
    Ikan asin dan ikan kering kita tampak kotor dan tdk menarik. Direndam menggunakan garam.kasar yg tdk pernah diganti. Padahal Singapore membersihkan ikannya dgn nanobunble, menghambat pembusukan lanjut dgn nanoIce dan garam mereka berkualutas baik. Ikan.mereka layaknya ikan yg baru dicetak dari mesin
    Lajungan kita dikuasai phillip morris, pengusaha lokal dlm bendera windika utama kesulitan export langsung, BUMN kelautan kita mati suri. Hidup enggan mati tak.mau.
    Hari ini kita masih jadi penjual rumput laut merah kaya mineral dgn harga murah, kemudian kita membelinya kembali sebagai supplement dgn harga 100x lipat.
    Bakteri laut kita dimanfaatkan oleh Ajinomoto Jepang untuk memproduksi enzym trnasglutaminase perekat protein bernilai tinggi, bakteri laut lainnya bisa menghasilkan gas hydrogen, gas methane. Rumput laut sebagai sumber hydrocolloid utama carragenan dan alginate, sumber bio fuel dan rumput laut varietas kalp adalah super fertilizer bila dicampur dgn nano Ag plus bakteri penghasil NPK dengan kecepatan pertumbuhan bakteri tercepat di dunia.
    Tentu saja Ibu harus mengembangkan teknologi pengolahan dan budidaya untuk menjamin biodiversity tetap lestari berkesinambungan. Nanobubble membantu ilan tumbuh 30% lebih cepat dgn kepadatan tebar 300% lrbih padat. Nanobubble meningkatkan kecepatan pertumbuhan kerang2an 500% lebih cepat dan perlakuan nano ice menyebavkan semua produk laut mampu mempertahankan kesegaranbya sampai 21 hari masih layak untuk dijadikan sushi.mi. Ibu tdk perlu lagi menggunakan gelombang radiasi sinar gamma, high electric field, UV V, UU extreem, ozone maupun hydroxyl radicals.
    Nanobubble sebentar lagi akan merubah paradigma baru dalam budidaya ikan laut dan ikan air tawar. Nanobubble memungkinkan untuk memilihara ikan laut berharga tinggi di daratan. Dengan teknologi ini, budidaya ikan laut tdk perlu lagi terkoneksi ke laut. Air laut tdk perlu disirkulasi tapi cukup ditambahkan dalam jumlah kecil mengganti kehilangan air karena penguapan. Nanobubble berbeda dengan fines bubble atau mikrobubble yg digunakan hari ini. Nanobubble bisa menyediakan kebutuhan oksigen terlarut maksimal dengan biaya yg jauh lebih rendah, Bila diffuser mikrobubble menghasilkan aerasi yg bertahan 30 detik maka nanobubble tertahan dan terlarut diair dalam waktu 4 jam. Nanobubble selain menyediakan kebutuhan oksigen ikan juga memiliki kemampuan memfloating pengotor air berupa bahan organik berupa kotoran ikan, sisa pakan dan hasil ekskresi lendir ikan. Seluruh pengotor air ini akan segera diapungkan kepermukaan dan langsung dibersihkan dgn scraver sehingga kualitas air tetap terjaga baik. (Catatan: oksigen terlarut yg terlalu tinggi tidak cocok untuk budidaya udang)
    Nanobubble dalam bentuk lain (nanobubble xxx) bisa kita gunakan di kolam penampungan tangkapan kerang-kerangan laut. Di kolam in kubator ini nanobubble XX akan mengoksidasi logam berat, norovirus, cacing dan bakteri pathogen sekaligus memberihkan pengotor yg melekat pada kuli kerang dalam keadaan hidup. Warna hitam sebagai ciri adanya norovirus dalam daging kerang akan hilang dan berubah menjadi warna putih bersih atau warna asli kerang tanpa noda hitam. Kerang yg memiliki ukuran belum standar sy sarankan untuk terus dipelihara dengan nanobubble udara biasa. Pertumbuhan kerang akan 5 kali lebih cepat daripada hidup di alam. Dan tentu saja dagingnya akan lebih gemuk dan kulitnya kana lebih bersih. Pembesaran dilakukan sangat padat dalam keranjang isi penuh tersusu rapat tanpa sela. Jangan khawatir, dgn nanobubble tdk akan kekurangan oksigen.
    NanoIce adalah paradigma baru dalam teknologi pasca panen hasil tangkapan laut. Kristal Ice terbentuk sangat halus (sepermilyar meter). NanoIce akan masuk kedalam jaringan daging ikan dengan mudah. Dalam pembekuan ikan biasa, air yg terkandung di dalam ikan akan membeku dan membentuk kristal Es. Ketika ikan di thawing maka akan terjadi water dripness . Jaringan daging ikan berubah teksturnya, hilangan ke elastisannya. Berbeda dengan nanoIce. Nanoice akan masuk ke dalam jaringan ikan dan tersebar merata di dalam daging. Ketika ikan didinginkan dengan blast freezer. keberadaan nanoice ini menyebabkan kadar air asli daging ikan tetap diposisinya dan membentuk kristal ice dalam orde nano. Ketika ikan ditwawing, tdk akan terjadi water dripness. Texture dan penampilan ikan sama persis ketika ikan baru ditangkap dari laut meskipun disimpan sangat lama.
    NanoIce XXX
    Advanced nanoIce berikutnya adalah nanoIce dengan kemampuan oksidasi, disinfeksi dan preservasi. NanoIce XX bekerja sama persis dgn NanoIce biasa tapi memliki 3 kemampuan dahsyat. Jangan harap anti histamin terbentuk, bakteri pembusuk akan mati. NanoIce XX tetap aktif didalam jaringan ikan dan dilepas sloe release ketika ikan nini digelar di meja pedagang ikan. Mutu ikan dijaga lebih lama, antihistamin penyebab allergi ditahan terbentuknya dan ini akan menjadi pilihan utama konsumen sushimi. Singkat kata, ikan asal indonesia awet lebih lama. Cukup dengan 2 teknologi ini, indonesia akan mengambil peranan besar di dunia dengan Ikan beku, ikan segar, ikan asin berkualitas terbaik. Perralatan nanobubble dan nanoice bisa mobile karena ukurannya kecil, bisa dibawa di perahu atau kapal penangkap ikan nelayan.
    Nano Aerogel mendukung teknologi penyimpanan beku dan pengangkutan beku yg effisien. Ibu tdk perlu menyalakan mobil reefer berpendingin terus menerus. Nano aerogel adalah material padat teringan ke 2 di dunia dengan kemampuan isolator terbaik di dunia. Bisa disyntesa dari silica stone maupun silica sekam padi.
    Sy yakin bila kementrian Ibu memperbanyak armada dan peralatan penangkapan ikan, Potensi maritim indonesia yang baru mencapai Rp 220 Triliun bisa ditingkatkan menjadi Rp 3000 Triliun. Separuh dari GDP indonesia. Bila Ib u menjaga kelestarian terumbu karang dan mengendalikan penggunaan pukat harimau, bom ikan dan racun ikan, maka Ibu bisa menaikan potensi perikanan perkilometrer persegi pertahun dari Rp 120 Jt menjadi Rp 240 Jt. Tentu saja armada yg dibuat adalah armada yg memiliki daya jelajah tinggi dan memiliki peralatan canggih dan navigasi satelite yg mengetahui keberadaan ikan. Seperti kapal canggih yg dimiliki oleh para penjarah lautan indonesia.
    Semua ini akan sia-sia bila illegal fishing dan transaksi gelapjual beli ikan di tengah lautan tdk Ibu perhatikan. Ibu Sebagai Elang Srikandi pasti sering menyaksikan transaksi seperti ini dari udara (pesawat), kapal asing berbendera indonesia melakukan transaksi di tengah lautan. Ibu bisa bekerjasama dengan kemetrian terkait. Tentu pembelian drone dan penjagaan pintu keluar masuk kapal menjadi perhatian penting.
    Untuk komoditi hasil laut hidup bernilai tinggi, Ibu bisa membuka landasan pacu pesawat berukuran sedang dibeberapa wilayah terpencil yg bisa mengexport segera ikan hidup bernilai tinggi ke negara tujuan. Seperti yg Ibu lakukan saat ini, tapi diperbanyak lagi. Semoga Rp 3.000 triliun bisa Ibu maksimalkan dari lautan indonesia.
    Salam

Leave a Reply to Tandi Wijaya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *